Kartu Prakerja 2023 Targetkan 1 Juta Penerima, Pengamat: Literasi Digital Harus Masuk Program, juga Lakukan Mapping Demands

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: net)
Jumat, 6 Januari 2023, 22:29 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, Program Kartu Prakerja akan dilanjutkan pada 2023 dengan skema normal dan target capaian hingga 1 juta penerima.

“Program Kartu Prakerja berlanjut pada tahun 2023, dengan pelaksanaan skema normal yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2022, yang aturan pelaksanaannya tertera pada Permenko Perekonomian Nomor 17 Tahun 2022,” ungkap Ketum Golkar itu, beberapa waktu lalu.

Implementasi itu, dikatakannya, akan menyasar sejumlah bidang pelatihan keterampilan tertentu yang paling dibutuhkan di masa kini dan mendatang. "Yakni dengan merujuk pada berbagai kajian mengenai pasar kerja mendatang dalam Indonesia’s Critical Occupation List, Indonesia’s Occupational Tasks and Skills, Studi World Economic Forum 'Future Job Report', serta Riset Indonesia Online Vacancy Outlook," jelas Airlangga.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Muhammad Hanri menilai, kemampuan terkait literasi digital sangat perlu dikembangkan dalam Program Kartu Prakerja.

Baca juga : Golkar Targetkan 20% Suara di Pemilu 2024, Pengamat: Tak Ada yang Tidak Mungkin, juga Perlu Evaluasi Secara Utuh

"Dari beberapa kajian LPEM bisa disimpulkan kalau literasi digital sangat perlu untuk dikembangkan. Terlebih, misalnya untuk UMKM-UMKM ya, pemasaran, penjualan, sampai tata usaha digital. Itu akan punya efek positif untuk scaling up usaha mereka," ujarnya menanggapi peluncuran kartu prakerja itu, Jumat (6/1/2023).

Menurutnya, hal itu juga terkait dengan pekerja bidang industri kreatif dan generasi pekerja sekarang yang cenderung lebih dinamis. "Begitu pula untuk teman-teman yang bekerja di industri kreatif. Apalagi dengan preferensi pekerjaan generasi Z saat ini yang cenderung lebih dinamis dibanding generasi-generasi pendahulunya," terangnya.

Kartu Prakerja, menurutnya, juga perlu berpegang pada sistem pemantauan keterampilan yang menyelaraskan program pendidikan dan keterampilan terhadap tuntutan dunia usaha dan dunia industri. Hal itu bisa memanfaatkan Critical Occupation List (COL) atau Daftar Pekerjaan Kritis di Indonesia.

"Jenis pelatihan juga dipastikan disesuaikan dengan critical occupation list, dan sistem kemitraan dengan swasta juga diperluas. Untuk memastikan peserta-peserta tersebut terserap dengan baik setelah mengambil pelatihan," tambahnya.

Baca juga : Tingkat Kepuasan Publik Menurun, Pengamat: Pemerintah Harus Fokus Kendalikan Harga Pangan

Selain itu, Hanri juga menyampaikan catatan terkait pelaksanaan Kartu Prakerja 2022. Dikatakannya, tantangan ke depan adalah mengubah cara pandang peserta bahwa Kartu Prakerja bukanlah program Bantuan Sosial (Bansos).

"Pelaksanaan 2022 sudah bagus, namun tantangan untuk 2023 adalah bagaimana mengubah paradigma prakerja yang dulunya seperti Bansos, menjadi bukan lagi Bansos, meskipun tetap ada bantuan yang akan diterima peserta," tandasnya.

Pada kesempatan berbeda, Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, sudah semestinya pemerintah mencari tahu kebutuhan akan tenaga kerja untuk kemudian menyediakan pelatihannya. “Harusnya ada mapping demands dulu. Karena vokasi, ini kan masuknya pendidikan vokasi ya, vokasi tidak bisa hanya menyediakan supply, tetapi harus ada demand dan supply,“ kata Indra, Jumat (6/1/2023).

Indra menjelaskan, setiap tahun ada sekitar 2,6 juta pencari kerja baru, namun hanya 1,8 juta lowongan pekerjaan yang tersedia. Sisanya berkompetisi dengan apa yang tersisa dan menambah kemampuan mereka melalui pelatihan-pelatihan.

Baca juga : Pemerintah Optimis Faktor Eksternal dan Internal Ekonomi Kuat, Pengamat: Bank Sentral Harus Naikkan Suku Bunga

"Pemerintah harus fokus ke pembukaan lapangan kerja baru atau modal usaha yang mudah dan murah baru itu kelihatan manfaatnya,” ujarnya.

Pelatihan Kartu Prakerja yang sebelumnya dilakukan secara daring, kini harus bisa diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia termasuk di daerah. Karenanya, tenaga kerja yang kompetitif dan memiliki kemampuan juga ada di daerah-daerah.

“Ini juga akan mendorong industri di daerah-daerah,” ucap Indra. Untuk itu, tugas pemerintah, baik pusat maupun daerah, agar bisa mengembangkan industri di daerah. "Baik itu dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus atau pengembangan industri lain, untuk membuka lebih banyak lowongan pekerjaan bagi tenaga kerja Indonesia," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal