Tahan Kenaikan Suku Bunga Acuan BI, Pemerintah Harus Cepat Turunkan Inflasi

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: ist)
Senin, 19 Desember 2022, 21:44 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, pemerintah perlu menurunkan inflasi sesegera mungkin, terutama pada bulan Desember dan Januari 2023. Sebab, ketika pemerintah mampu menurunkan inflasi, maka Bank Indonesia diprediksi tidak akan terlalu agresif untuk menaikkan suku bunga acuan.

"Dari kondisi tersebut pemerintah mungkin perlu menurunkan tingkat inflasi secepatnya, terutama pada bulan Desember dan Januari. Khususnya untuk mengantisipasi harga barang yang bergejolak. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan BI untuk menaikkan suku bunganya pada Kuartal 1 2023," tutur Josua, Senin (19/12/2022).

Menurut Josua, kondisi inflasi Indonesia pada saat ini cenderung mengalami normalisasi. Ia memperkirakan inflasi pada akhir 2023 bisa berada di bawah 4 persen.

Baca juga : Indonesia Masih Jadi Daya Tarik Investor, Ekonom: Pemerintah Harus Jaga Iklim Investasi

"Oleh karena itu, dari sisi inflasi, diperkirakan pada akhir 2023 mendatang akan berada pada kisaran 3,0 persen-3,5 persen," ungkapnya.

Meski demikian, Josua menyarankan pemerintah mewaspadai goncangan pada rupiah ketika resesi global benar-benar terjadi. Karena hal itu akan memicu kenaikan harga barang yang didatangkan dari luar negeri.

"Salah satu risiko yang perlu diperhatikan pemerintah saat ini terkait inflasi adalah potensi shock pada rupiah, di saat sentimen risk-off menguat bila resesi terjadi, yang berakibat pada kenaikan harga barang impor," tandasnya.

Baca juga : Airlangga Gaungkan Industri Halal, Ekonom: Pemerintah Harus Tentukan Fokus, Riset, dan Regulasinya

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyebut, kondisi dilematis yang menjadi tantangan perekonomian ke depan. Pertama, menurunkan inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga. Kedua, menurunkan suku bunga dalam menghadapi resesi agar roda perekonomian dapat terus bergerak.

"Tapi tahun depan itu, 2 hal itu terjadi sekaligus. Inflasi tinggi, resesi berat. Jadi, menaikkan tingkat bunga makin resesi, tak menaikkan tingkat bunga inflasinya naik terus. Ini suatu dilema yang luar biasa," jelasnya, beberapa waktu lalu.

Pemerintah sendiri meyakini perekonomian Indonesia tetap solid, di tengah ketidakpastian global dan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Pada Triwulan III-2022, perekonomian Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan 5,72% (yoy).

Baca juga : Tidak Hanya Perizinan Investasi, Ekonom: Pemerintah Harus Permudah Investor Jalankan Usaha

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2023 mencapai 5,3 persen. "Dengan pertimbangan berbagai risiko global dan domestik, kami optimis dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% tahun 2022 dan sebesar 5,3% di tahun 2023,” tuturnya, beberapa waktu lalu.

Sementara Peneliti Makro Ekonomi dan Pasar Keuangan LPEM UI Teuku Riefky mengatakan, Bank Sentral perlu menjaganya agar arus modal keluar realtif bisa dikendalikan. “Untuk itu, BI tentu perlu menjaga rate differential sekaligus memperhatikan laju inflasi domestik serta nilai tukar rupiah. Jadi, kalau The Fed masih akan agresif, BI pun tampaknya harus menjaga agresivitas pengetatan suku bunga untuk menjaga agar arus modal keluar bisa relatif terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah bisa terjaga,” katanya, Senin (19/12/2022).

Kemudian untuk menjaga laju inflasi, Teuku Riefky menyarankan, sejumlah ‘extra effort’ yang dilakukan Pemerintah harus terus dilakukan. "Selain dari kebijakan moneter konvensional, sejauh ini koordinasi TPIP-TPID dan penebalan jaring pengaman sosial relatif mampu mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal