Industri Sawit Cukup Menjanjikan di Tengah Krisis, Pengamat: Keberlanjutan & Kesejahteraan Petani Harus Diperhatikan

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: ist)
Kamis, 3 Nopember 2022, 20:38 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong substitusi bahan bakar fosil dengan energi hijau seperti dari sawit.

"Oleh karena itu, upaya substitusi bahan bakar fosil dengan biodiesel sawit, green fuel lainnya, dan petrokimia dengan oleokimia berbasis sawit merupakan strategi yang akan membuat industri sawit lebih layak di tengah krisis. Hingga tahun 2022, Indonesia masih menerapkan B30. Saat ini, Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel lebih rendah daripada HIP Solar,” kata Menko Airlangga, beberapa waktu lalu.

Pengamat Energi Komaidi Notonegoro mengatakan, saat ini telah melakukan uji jalan (road test) penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel dengan campuran 40% atau disebut B40 pada kendaraan bermesin diesel. “Karena serapannya terus naik,” katanya, Kamis (3/11/2022).

Menurutnya, produk biodiesel terbukti diminati oleh masyarakat sehingga terus dilakukan inovasi baru seperti B40. Pemberlakuan B40 ini merupakan salah satu upaya strategis negara untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), sekaligus mengimplementasikan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT). Pertamina pun sedang mengembangkan Biogasoline.

Baca juga : Dinamika Politik Masih Dinamis, Pengamat: KIB Bisa Majukan Capres dari Hasil Konvensi atau Sendiri

Untuk itu, Komaidi mengingatkan, ketika nantinya produk tersebut sudah digunakan oleh masyarakat, harus dijaga ketersediaannya. “Perlu diperhatikan secara keberlanjutan pasokan, kan kelapa sawit dia kan trade off dengan kebutuhan lain misalnya minyak goreng, dan produk turunan lainnya,“ terang Direktur Eksekutif Reforminer Institute ini.

Contohnya, saat ini Pertamina tengah mengkaji produk biogasoline. Namun, pertamina meminta agar ada kepastian keberlanjutan suplai minyak sawitnya (Crude Palm Oil/CPO). Komaidi menambahkan, Pemerintah bisa mencari alternatif energi hijau lain, tidak berat ke sawit saja.

“Juga perlu menyeimbangkan dengan potensi lain, sehingga mungkin Pemerintah fokusnya jangan hanya berat ke kelapa sawit, karena kebutuhan kelapa sawit bukan cuma untuk biodiesel, tetapi ada kebutuhan lain. Harus berpikir untuk mengembangkan EBT yang lain, misalnya panas bumi,“ tandas Komaidi.

Sementara pada kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif Segara Institut Piter Abdullah mengungkapkan, industri sawit berkelanjutan bertumpu pada kesungguhan dan keseriusan dalam menjaga lingkungan.

Baca juga : Situasi PPP Jadi Tantangan Berat KIB, Pengamat: Tak Rubah Keberadaan di Koalisi

“Pengertian dari berkelanjutan dalam industri kelapa sawit adalah adanya upaya sungguh-sungguh untuk menjaga lingkungan agar tetap kondusif bagi kelangsungan perkebunan sawit,” ujarnya, Kamis (3/11/2022).

Menurutnya, lemerintah juga harus memanfaatkan peluang ekonomi kawasan untuk semakin mendorong tercapainya industri sawit berkelanjutan. “Kondisi pasar dan harga CPO yang saat ini cukup tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tersebut,” ungkapnya.

Peluang itu juga harus dimanfaatkan untuk menyejahterakan petani sawit kecil. Hal itu bisa dilakukan dengan menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit produksi petani.

“Keberpihakan kepada petani kecil ditunjukkan dengan upaya menjaga pasar agar petani mendapatkan harga jual yang menguntungkan,” tambahnya.

Baca juga : Kendalikan Inflasi, Pengamat: Pemerintah Daerah Harus Optimalkan DAK dan DAU

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk bisa membantu petani kecil melakukan peremajaan tanaman sawit dengan dana yang sudah terhimpun. “Pemerintah juga hendaknya membantu petani kecil melakukan peremajaan atas kebun-kebun mereka, memanfaatkan dana yang dihimpun memang untuk itu,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal