Pidato Jokowi di HUT Golkar

Pakar Komunikasi: Mencari Pemimpin yang Memiliki Arate

Selasa, 25 Oktober 2022, 18:56 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Pakar Komunikasi Politik Antonius Benny Susetyo mengatakan, banyak pihak yang menafsirkan pernyataan Presiden Jokowi saat HUT Partai Golkar. Di mana saat itu Jokowi mengatakan, memilih pemimpin harus hati-hati dan tidak terburu-buru. Lantas banyak orang menafsirkan, ucapan tersebut adalah sebuah simbol bahwa ketika memilih seorang pemimpin harus membaca tanda-tanda zaman dan realitas kekinian.

”Jangan terburu-buru memilih karena Indonesia adalah negara luas yang terdiri 715 suku bangsa dan ratusan agama, etnis dan itu membutuhkan pemimpin yang mampu berikan hatinya untuk rakyatnya,” kata Benny, Selasa (25/10).

Benny bilang, jika melihat isi pidato itu dalam teori komunikasi sering disebut dengan simbolik. “Simbolik adalah relasi meaning apa yang dibalik kata itu, tidak mungkin bisa kita ungkap jika kita tidak melihat teks,” jelas Benny.

Baca juga : Berbicara di Forum Parlemen Wanita Dunia, Puan: Perempuan Harus Bisa Memimpin Jalan

Ditegaskan Benny, teori komunikasi itu mampu membongkar ideologi tersembunyi tidak hanya melihat teks tapi juga melihat koneksi sosial dan konteksnya. “Teks menyatakan kalau mencari pemimpin harus teliti, jangan sembrono dan hati-hati. Jika melihat teks itu sebagai hal biasa, tapi jika melihat konstruksi sosial berarti kita melihat apa yang diinginkan oleh presiden,” paparnya.

Presiden, lanjut Benny, menginginkan mencari pemimpin itu tidaklah pemimpin sembarangan, tapi pemimpin yang mampu mengantar Indonesia kepada pintu gerbang kemerdekaan sejati dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Apa konteks sosialnya? Situasi dunia yang tidak ramah. Dunia dalam situasi global, krisis pangan dan krisis ekonomi finansial. Apa yang disampaikan Pak Jokowi dalam konteks sosialnya adalah situasi ekonomi yang tak menentu dan begitu sulit ditambah dengan ketegangan Rusia - Ukraina,” beber dia.

Baca juga : Kedekatan Golkar-PSI akan Untungkan Pencapresan Airlangga

“Carilah pemimpin yang memiliki arate. Apakah itu arate? Socrates dan Plato menyatakan arate adalah pemimpin yang memiliki keutamaan. Keutamaan bukan hanya sekedar keunggulan, mengetahui baik dan buruk, bukan hanya sekedar mampu mengelola pemerintahan yang bijaksana. Tetapi pemimpin yang mampu memandu bangsa, yang visioner seperti Sukarno - Hatta dan memiliki praktek memvisualisasikan ideologi bangsa menuju bonung comunio,” terang Benny.

Menurut Benny, tidak mudah mencari pemimpin. ”Pemimpin tidak sekedar transaksional dan popularitas. Pemimpin tidak hanya sekedar dia terkenal di medsos, tetapi pemimpin harus mampu memberikan harapan kepada bangsa dan negara untuk menuju kepada cita-cita proklamasi,” ujarnya.

Makanya, kata dia, Jokowi mengatakan carilah pemimpin dengan matang dan bijak dan jangan terjebak pada permukaan saja. Tetapi pemimpin yang mampu menjalankan 3 fungsi: punya logos baik dan buruk, punya pengetahuan ilmu pemerintahan, dan punya pengetahuan budaya adat istiadat Indonesia.

Baca juga : Ratusan Sopir Truk Dukung Ganjar Presiden 2024: Hanya Dia Pemimpin yang Peduli Kami

“Selain itu, pemimpin harus punya patos yang tidak mengambil jarak dengan rakyatnya, yang dekat dengan rakyat, melayani rakyat dan pemimpin yang memiliki etos harus dikombinasikan dengan patos,” imbuhnya.

Benny menyebut, pidato Jokowi untuk para pemimpin partai politik dalam penutupan Ultah Golkar itu memberi sinyal bahwa pimpinan partai jangan sembrono dan mudah percaya diri tapi mencari pemimpin harus bijak, matang dan perlu dipikirkan. “Maka carilah pemimpin yang memiliki arate itu,” tandasnya. (DTR)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal