Juga Penyebar Hoaks, "Emak-Emak" Ajak Warga Tolak Parpol yang Tonjolkan Identitas

Minggu, 2 Oktober 2022, 21:25 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Maraknya narasi sektarian, primodalisme, dan politik identitas yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir telah membuat polarisasi antar masyarakat. Kristalisasi pendukung cebong dan kampret pasca Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 semakin nyata. Terlebih narasi yang dipergunakan antar dua kubu tersebut juga mengandung hoaks dan ujaran kebencian.

Keresahan atas terulangnya kembali masa-masa kelam tersebut, membuat 200 "emak-emak" perwakilan dari 20 kelurahan di Jakarta melakukan Deklarasi Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian. Acara Deklarasi Emak-Emak Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian ini dilakukan saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di sekitar area Jembatan Pinisi Sudirman, Minggu (2/10/2022).

Puspa Yunita selaku Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (DPW SPRI) DKI Jakarta, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk ekspresi marah dan muak atas tingkah laku para elit politik yang kerap kali menggunakan narasi kebohongan dan ujaran kebencian demi meraih dukungan.

Baca juga : Jadi Tersangka Pencemaran Nama Baik, ASN Cantik asal Palembang Ajukan Praperadilan

"Kami kaum perempuan yang tergabung ke dalam barisan Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) menyatakan sikap untuk melawan hoaks dan ujaran keencian atas nama persaingan elite politik dan Pemilu. Untuk itu, kami mengajak kepada seluruh masyarakat Jakarta untuk menolak mendukung para elite politik dan peserta Pemilu 2024 yang akan menggunakan narasi sektarian, primodalisme, politik identitas, hoaks, dan ujaran kebencian," ujarnya.

Menurut Puspa, mereka adalah sampah yang harus dibuang jauh dari bumi Indonesia. Jangan sampai doktrin-doktrin sesat dan dungu yang mereka ucapkan meracuni pemikiran anak-anak kita sebagai calon penerus masa depan bangsa.

Sementara salah peserta Deklarasi, Irma, dari Kelurahan Batuampar, Jakarta Timur mengatakan, meski dunia politik itu kejam dan kotor, jangan sampai dikotori lagi dengan narasi-narasi negatif. Ruang pertarungan politik haruslah berisikan gagasan, program, visi dan misi, dan nilai-nilai demokrasi yang lahir setelah runtuhnya rezim Orde Baru. Cara-cara kuno dan barbar tersebut harus kita lenyapkan. Bangsa ini lahir karena kita bersatu bukan tercerai berai, bangsa ini kuat karena perbedaan yang telah menyatukan.

Baca juga : Hujan Deras, Kadinkes Jenguk Warga Desa Gandasari Derita Gangguan Jiwa

Meski diguyur hujan, tidak membuat antusias emak-emak ini berkurang mengikuti kegiatan. Mereka semangat mengikuti arahan orator sambil meneriakan yel-yel "Tolak Politisi Ujaran Kebencian".

Selain itu, terlihat mereka juga membagikan selebaran lawan hoaks dan meminta tanda tangan dukungan masyarakat yang berolah raga di seputar area kegiatan. Ratusan warga yang hadir ikut menandatangani sebagai bentuk dukungan. Mereka juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus menerus melawan hoaks dengan cara berpikir kritis, logis, dan melakukan cek fakta sebelum menyebarluaskan pesan.

"Sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia, kita dihadapkan pada rendahnya tingkat literasi digital. Hal ini turut membuat rentan masyarakat terhadap ancaman misinformasi dan disinformasi yang disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial secara masif dan terkoordinir. Untuk itu, kita perlu cerdas dan bijak dalam memilih informasi atau berita yang didapat," ujar salah satu orator. (ULI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal