Saparan Apem Yaa Qowiyyu, Airlangga: Inovasi Dakwah yang Dorong Perekonomian Masyarakat Lokal

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam gelaran tradisi Saparan Apem Yaa Qowiyyu. (Foto: Kemenko Perekonomian)
Jumat, 16 September 2022, 20:35 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Bangsa Indonesia telah dikenal sebagai bangsa yang sangat menghormati dan merawat nilai-nilai luhur warisan para pendahulu. Pagelaran setiap peristiwa budaya juga selalu diikuti dengan keterlibatan dan antusiasme dari seluruh masyarakat.

Kemeriahan itu juga diperlihatkan dalam prosesi acara puncak Saparan Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Setelah dua tahun digelar secara sederhana akibat pandemi, Saparan Apem Yaa Qowiyyu pada tahun ini kembali dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat yang telah diawali sebelumnya dengan Kirab Budaya Gunungan Apem dan Haul Kyahi Ageng Gribig.

Saparan Apem Yaa Qowiyyu sendiri merupakan inovasi strategi dakwah yang dilakukan Kyahi Ageng Gribig dengan membagikan apem kepada masyarakat, yang dimulai sejak 403 tahun yang lalu.

Baca juga : Wali Kota Tangsel Dorong Teknologi Dengan Kearifan Lokal

“Sudah dua tahun dilaksanakan secara sederhana, Alhamdulillah, Covid-19 dapat ditangani dengan baik sehingga kemarin acara ini sudah diawali oleh Haul Kyahi Ageng Gribig,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menghadiri langsung acara tersebut, Jumat (16/9/2022).

Kehadiran Menko Airlangga dalam kesempatan tersebut tidak hanya sebagai bentuk dukungan dalam upaya melestarikan tradisi dan budaya, namun juga sebagai bentuk penghormatan dan upaya merawat peninggalan leluhur, di mana dirinya masih merupakan keturunan langsung dari Kyahi Ageng Gribig.

“Pembagian apem tersebut menjadi simbol fisik dari andum atau berbagi ampunan kepada sesama manusia, yang merupakan ajaran dalam dakwah budaya yang disebarkan oleh Kyahi Ageng Gribig. Tradisi andum pada awalnya mulai dilakukan Kyahi Ageng Gribig, guna memberikan dorongan dan motivasi kepada masyarakat dalam mengamalkan kebajikan berupa sedekah kepada sesama sehingga dapat mendorong terciptanya masyarakat yang damai dan saling peduli,” terang Airlangga.

Baca juga : Ungguli Survei, Airlangga dan Golkar Favorit Pilihan Masyarakat

Hingga kini, budaya sedekah tersebut tetap dijalankan masyarakat dan terlihat melalui pembagian sekitar hampir lima ton apem yang merupakan hasil sumbangsih masyarakat dari berbagai wilayah untuk memeriahkan kegiatan Saparan Apem Yaa Qowiyyu tersebut.

“Selain menjadi simbol kebajikan dalam mengamalkan sedekah, antusiasme masyarakat dalam memperebutkan pengambilan apem juga memiliki filosofi bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan diperlukan usaha yang keras untuk mendapatkannya, sehingga masyarakat diajarkan untuk dapat meningkatkan tekad dan ikhtiar dalam mencapai hal yang diinginkan,” jelasnya.

Selain menjadi wujud dalam melestarikan budaya leluhur, kegiatan Saparan Apem Ya Qowiyyu, dikatakan Airlangga, juga telah mampu mendorong bergeraknya kembali perekonomian masyarakat lokal di Jatinom. Hal tersebut di antaranya terlihat dari tingginya lonjakan permintaan apem dan berbagai penganan lokal yang dijajakan, termasuk permintaan dari para wisatawan yang ikut hadir dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Baca juga : Sehari, Polres Subang Gelar Vaksinasi Anak dan Masyarakat di Lima Lokasi

“Saparan Apem Yaa Qowiyyu adalah inovasi pada jamannya Kyahi Ageng Gribig untuk melakukan dakwah secara damai, dan saat ini berdampak juga pada geliat ekonomi masyarakat yang bergerak,” tandas Menko Airlangga.

Sementara kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Anggota DPR RI, Gubernur Jawa Tengah, Bupati Klaten, Wakil Bupati Klaten, serta sejumlah ulama. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal