LampuHijau.co.id - Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto mengatakan, pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Yunus Nusi mengenai Jakarta International Stadium (JIS) bukan pernyataan politis. Dan tidak ada hubungannya dengan Pemilu 2024 nanti.
“Sejatinya apa yang disampaikan Sekjen PSSI Yunus Nusi ada benarnya. Hal ini murni pernyataan professional sesuai fakta. Seharusnya ini bisa menjadi masukan dan evaluasi bagi Gubernur Anies dan PT. Jakpro untuk memperbaiki kondisi stadion JIS,” kata pria yang akrab disapa SGY ini, Senin (12/9).
Menurut SGY, kejadian ini tidak akan terjadi jika sejak awal pembangunan, PT. Jakpro berkoordinasi secara maksimal dengan PSSI dan Persija. Hal-hal prinsip dan detail yang berkaitan dengan kondisi kelayakan stadion JIS seyogyanya juga telah dibahas dan disepakati bersama.
Baca juga : Situasi PPP Jadi Tantangan Berat KIB, Pengamat: Tak Rubah Keberadaan di Koalisi
Sebelumnya, PSSI menyebut jika pertandingan antara Timnas Indonesia Vs Curacao dalam FIFA Matchday yang sedianya akan digelar di JIS pada 27 September 2022 dipindahkan. Musababnya, setelah PSSI melakukan uji kelayakan, JIS dianggap belum layak untuk menggelar FIFA Matchday.
Berita mengenai pemindahan stadion tersebut dirilis PSSI pada website resmi yang diberi judul "JIS Dianggap belum Memenuhi Kelayakan Infrastruktur". Namun kemudian judul artikel tersebut diubah menjadi, "Infrastruktur JIS Masih dalam Tahap Pendampingan PSSI".
Meski begitu, tetap dijelaskan substansi atau inti persoalan tentang kekurangan pada stadion JIS. Yakni, dari hasil inspeksi tim Infrastructure Safety and Security PSSI, JIS belum memenuhi kelayakan 100 persen infrastruktur (area drop off tim, sirkulasi aktivitas terkait pertandingan di outer perimeter menumpuk di barat utara).
Baca juga : Miliki Pandangan Sama, Pengamat: PSI Potensial Perkuat KIB
Setidaknya ada lima alasan yang dijelaskan dalam artikel PSSI tersebut. Pertama, concourse timur belum dapat digunakan, perimeter tribune perlu pengkajian ulang, pagar perimeter di bawah concourse barat tidak kokoh dan sarana prasarana pendukung (kantong parkir, transportasi umum, dan jalan akses menuju stadion belum sesuai standar).
Kedua, bahwa untuk sebuah pertandingan FIFA Match Day yang mengundang animo penonton sangat banyak maka perlu dilakukan simulasi terkait jumlah penonton mulai dari 25% - 50% - 75% - 100% dari perhitungan maximum safety capacity. Sedangkan JIS yang begitu megah, dengan daya tampung 80 ribu kursi hanya bisa menampung parkir sekitar 800 unit kendaraan roda empat. Padahal, jika timnas main, animo masyarakat untuk berduyun-duyun ke stadion sangat tinggi.
Ketiga, bahwa untuk masuk stadion hanya satu pintu. Kondisi ini dikhawatirkan jika bersamaan keluar akan memakan waktu yang lama. Keempat, plafon yang rendah membuat bus tidak bisa masuk. Sehingga bus tim tamu dan tim tuan rumah berhentinya di area umum, tidak di area sebagaimana mestinya yang sudah diatur.
Baca juga : Kikis Penilaian Negatif dan Semakin Terbuka melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi
Yang terakhir, biaya sewa JIS yang tinggi. Hal ini tentu juga sangat logis jika menjadi alasan PSSI tidak menggunakan JIS. Bahkan PSSI juga menegaskan bahwa Tim sekelas Persija Jakarta pun lebih memilih stadion di Bekasi.
PT. Jakpro kemudian memberikan tanggapan. Jakpro menegaskan, JIS dibangun sebagaimana mestinya bahkan didampingi pihak FIFA, supaya sesuai standar agar bisa menggelar pertandingan level internasional.
Dari uraian di atas, kata SGY, apa yang disampaikan Sekjen PSSI tentang kekurangan JIS adalah fakta dan penting. “Tujuannya tentu untuk menjadi masukan bagi Pemprov DKI Jakarta dan PT. Jakpro. Harapannya pasti untuk kebaikan dan kepentingan PSSI, PT. Jakpro dan Pemprov DKI Jakarta serta masyarakat pecinta sepak bola,” tandasnya. (DTR)