Kedekatan Ibu dan Anak Penting, Puan: DPR Sedang Perjuangkan Cuti Melahirkan Jadi 6 Bulan di RUU KIA

Minggu, 19 Juni 2022, 14:15 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) yang juga Ketua DPR Puan Maharani menyatakan, pihaknya sedang memperjuangkan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA). Pasalnya, kedekatan ibu dan anak sangatlah penting.

“Di DPR RI kami sedang memperjuangkan UU Kesejahteraan ibu dan anak. Yang mana nantinya ibu melahirkan itu cutinya itu Insyaallah dari 3 bulan jadi 6 bulan,” kata Puan saat pembukaan Gebyar Inovasi Pelayanan Kesehatan Rakyat, yang dilaksanakan dalam rangka Bulan Bung Karno 2022, di Gedung Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/6/2022) kemarin.

Puan juga mengatakan, teknis pembuatan RUU itu akan dikomunikasikan lebih lanjut. Yang jelas, hal itu akan dibahas antara DPR dan Pemerintah. Menurut Puan, pihaknya memperjuangkan RUU itu karena melihat pentingnya kedekatan ibu dan anak sesudah dilahirkan.

Baca juga : Demi Generasi Emas Indonesia, Puan: DPR Dorong Cuti Hamil Jadi 6 Bulan di RUU KIA

“Cuti 3 bulan memang cukup, tetapi kalau bisa 6 bulan, kenapa tidak. Dan 3 bulan selanjutnya, apakah nanti itu WFH, tetap bekerja, tapi bersama bayinya. Ini penting. Sehingga kedekatan antara ibu dan anak bisa lebih dekat, bisa lebih memberikan ASI,” terang perempuan lulusan Universitas Indonesia itu.

Dengan RUU itu, pihaknya juga menyasar peran ayah dalam mengurus serta membesarkan anak lebih diberikan. Para ibu juga akan bisa bekerja sembari mengurus anaknya.

“Jadi kita dukung ya, itu semua,” ucap Puan.

Baca juga : Pembahasan Sudah Rampung, DPR Siap Mengesahkan RUU KUHP

Sementara Kepala BKKBN yang hadir di acara itu, Hasto Wardoyo menyatakan, Pemerintah berterima kasih kepada PDIP yang selalu memberikan perhatian yang luar biasa terhadap penanganan stunting, kesehatan ibu dan anak. Khususnya oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Ibu Megawati Soekarnoputri membuat buku yang luar biasa, ini adalah buku resep makanan baduta dan ibu hamil dari Ibu Megawati. Iya, luar biasa,” kata Hasto.

Menurutnya, stunting bisa dikenali dengan orang yang pendek, walau orang pendek belum tentu stunting. Namun stunting memiliki setidaknya tiga kerugian.

Baca juga : Medsos Kenyataan yang Tak Bisa Diabaikan, Puan: Pilih Orang yang Pernah Memperjuangkan Kita

“Satu, stunting itu pendek, jadi susah bersaing. Mau jadi TNI, Polri juga susah. Mau naksir pramugari juga ragu-ragu, karena kita nggak pede. Kemudian stunting itu daya ‘dong’ (memahami,red)-nya rendah. Jadi ya, sulit untuk menjadi cerdas.

Kemudian ketiga, mudah sakit-sakit-sakitan. Kalau orang stunting itu di umur 45 tahun itu sudah sentral obbess atau bengkak atau gemuk tapi di tengah. Orang yang gemuknya di tengah, mudah kena penyakit tekanan darah tinggi, kencing manis, stroke, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak berkualitas,” jelas Hasto.

Pada titik itulah pendidikan dan pemberdayaan para ibu dalam membesarkan anak, sangatlah penting. “Karenanya, sesuai arahan Presiden Jokowi, anak stunting harus dicegah. Targetnya di tahun 2024 bisa mencapai 14 persen, di mana saat ini angkanya masih 24,4 persen,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal