LampuHijau.co.id - Pembatasan sejumlah media sosial dan pesan instan seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp oleh pemerintah diprotes oleh sejumlah pedagang online. Mereka menganggap pembatasan media sosial dan pesan instan ini mengganggu kelancaran jual beli online. Padahal, momen jelang Lebaran ini biasanya mereka mendapatkan banjir orderan.
Hal ini seperti dikeluhkan Jordi, seorang penjual online di Jakarta. Jordi yang biasa menjual diecast lewat forum di Facebook dan OLX mengaku kesulitan dengan adanya pembatasan media sosial ini.
"Sangat terganggu, karena adanya pembatasan akses medsos untuk transaksi jual beli terutama di Facebook," jelasnya ketika dihubungi, kemarin.
Selain itu, menurutnya, ia kesulitan untuk melakukan konfirmasi kepada pembeli. "Kadang tidak terkirim chat buyer (pembeli). (Padahal) biasanya kalau buyersl sudah lihat iklan di forum, dia langsung WA (WhatsApp) gw," lanjutnya lagi.
Untuk mengakali kesulitan akses koneksi media sosial dan pesan instan ini, Jordi memilih untuk menggunakan koneksi WiFi. Selain itu, Jordi juga menggunakan layanan pesan instan alternatif seperti Facebook Messenger dan SMS.
Baca juga : Jelang 22 Mei, Kepolisian Siapkan Empat Lapis Pengamanan di KPU
Sementara, Meilisa, pedagang baju yang kerap memanfaatkan Instagram untuk berjualan, menyebut beruntung tidak mengalami kesulitan. Sebab, ia mengandalkan layanan WiFi untuk berjualan. Hanya saja beberapa pelanggannya kesulitan mengunggah foto pesanan, bukti pembayaran, dan sulit menerima pesan.
"Pakai WiFi untungnya ngga apa-apa. Cuma customer (pelanggan) aja ada beberapa nggak bisa send pic (kirim foto), sama chat beberapa pending (tertunda)," tuturnya saat dihubungi terpisah.
Keluhan juga datang dari Depok, Nurul Fitriani, pengusaha kue kering. Ia mengaku pembatasan media sosial ini membuat terganggunya komunikasi dengan pemesan. Karena, pemesan sulit untuk dihubungi, akibatnya menghambat proses pengiriman pesanan.
Pedagang online juga meminta agar pemerintah, tidak memberlakukan kebijakan ini terlalu lama menjelang Idul Fitri. Hal ini diungkap pengusaha konveksi yang mengandalkan Facebook Ads untuk berpromosi, Muhammad Ikhsan.
"Ya, kalau Facebook down cuma 1-2 jam tak masalah, tapi kalau sampai berhari-hari tentu akan ada dampaknya. Apalagi ini dekat-dekat Lebaran, harusnya bisnis lancar, bisa meraup untung dari bisnis baju via media sosial," ujarnya lewat pesan teks.
Baca juga : Safari Ramadhan, Lurah Utan Panjang Santuni 200 Anak Yatim dan Lansia
Keluhan soal terhambatnya jualan online gara-gara keputusan pemerintah melakukan pembatasan media sosial. Akun @FerdyRagnarok mengeluh kebijakan ini mematikan mata pencaharian orang, yang mencari uang secara online.
“Mateni wong golek duit, apalagi buat orang kecil yg mata pencaharianya jualan makanan online, sehari gak jualan saja mau makan apa mereka yg hidup pas pasan, mungkin bagi yg duitnya banyak gak masalah,” tulisnya.
Sementara, akun @siscadianita mengaku kesulitan untuk mengunggah foto barang-barang dagangannya. “Dear @kemkominfo mohon WA dipulihkan total kembali. Pedagang online seperti saya ini nggak bisa jualan pak. Kalo dagangan nggak laku, dapur nggak ngebul. Banyak barang nggak bisa keupload. Jualan totally mandek. Penghasilan saya bukan dari gaji bulanan kayak bapak lho."
Pemerintah menyatakan telah membatasi akses sosial media dan layanan pesan instan seperti WhatsApp, dan akan dilakukan secara bertahap. Hal itu dilakukan karena kelima operator telekomunikasi di Indonesia tidak bisa langsung memberlakukan pembatasan akses sekaligus, karena besarnya jumlah pengguna ponsel di Indonesia.
Pembatasan akses media sosial dilakukan dengan mengurangi kecepatan pengguna dalam mengunggah dan mengunduh konten seperti foto dan video, untuk mencegah penyebaran informasi hoaks terkait kerusuhan 22 Mei.
Baca juga : Blokade Jalan dari Aksi Massa, Kepolisian Kerahkan 8 Kompi Pasukan di MK
Sementara, pedagang mengaku rugi dengan ditutupnya di Pasar Tanah Abang pada hari ini. Penutupan tersebut terkait dengan adanya aksi 22 Mei di Jakarta.
Ketua Koperasi Pedagang Tanah Abang Yasril Umar mengatakan, total kerugian yang diterima oleh para pedagang Pasar Tanah Abang diperkirakan mencapai Rp100 miliar. "Kerugian kalau saya hitung-hitung bisa Rp50 miliar-Rp 100 miliar per hari," ujar dia.
Saat ini, lanjut dia, jumlah pedagang di Pasar Tanah Abang mencapai 25 ribu orang. Para pedagang ini tersebar di sejumlah blok yang menjadi bagian dari pasar tersebut. "Jumlah pedagang kalau digabungkan semua mungkin ada sekitar 25 ribu pedagang. Kios yang ada di sini sekitar 25 ribu pedagang," kata dia.
Menurut Yasril, rata-rata omzet pedagang Pasar Tanah Abang mencapai Rp2 juta per hari. Namun, kerugian yang diterima pedagang bisa lebih besar mengingat saat Ramadan dan jelang Lebaran transaksi di pasar tersebut cenderung meningkat.
"Anggap kalau 25 ribu pedagang dikalikan Rp2 juta per hari, itu sudah Rp50 miliar. Apalagi ini mau Lebaran, omzet mereka (pedagang) lebih dari itu kan. Kan ada yang Rp50 juta per hari, ada yang Rp100 juta," tandas dia. (LHTJ)