LampuHijau.co.id - Bagi Haji Black, memiliki banyak teman itu merupakan anugerah. Sehingga semboyan "seribu kawan masih kurang, satu musuh kebanyakan", yang menjadi motto Ormas Kembang Latar yang dipimpimpinnya saat ini, sangat berarti bagi dirinya.
Kata Ketua Kembang Latar periode 2022-2027 itu, semboyan itu pun menjadi falsafah yang ditanamkan para anggota organisasinya sejak awal berdiri tahun 1991. Lelaki berkulit hitam yang memiliki nama asli Haji Bahyudin itu mengungkapkan, semboyan atau motto tersebut berawal dari gagasan para pendiri Kembang Latar yang berawal dari pertemanan yang berubah menjadi perkumpulan.
Ketika itu, para pendiri empat orang, yakni Nirwan Jaya, Ahmad Persada Ginting, Sobari, H. Matt Bendot, dan Habaib Ama Mashur bersepakat untuk menyatukan sejumlah tokoh organisasi massa (ormas) di wilayah Jakarta Selatan. Gagasan tersebut rupanya disambut baik oleh para tokoh ormas dan masyarakat. Begitu juga dengan sejumlah ormas, di antaranya Pemuda Pancasila, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan lainnya.
"Perkumpulan ini tak hanya sebatas wilayah Jakarta Selatan, tetap melebar hingga wilayah Jabodetabek. Semua menyambut baik gagasan dan sepakat untuk bergabung," papar pria yang akrab disapa Haji Black itu, Kamis (10/3/2022).
Kesepakatan tersebut, diungkapkan Haji Black, karena adanya persamaan visi untuk menciptakan situasi lingkungan yang kondusif. Mengingat, ketika itu sering terjadi konflik pemuda antar kampung dan wilayah serta ormas. Guna meredam gesekan, perkumpulan yang merupakan cikal bakal Kembang Latar itu kemudian menggelar sejumlah kegiatan sosial dan olahraga.
"Dulu pendiri Kembang Latar sering mengadakan acara kumpul bareng, seperti latihan sepak bola di Lapangan Situ Gintung setiap hari Minggu, sampai menyantuni anak-anak yatim dan membangun musalah di Ciseeng," ungkapnya.
Semakin besarnya perkumpulan, Nirwan Jaya, Ahmad Persada Ginting, Sobari, H. Matt Bendot, dan Habaib Ama Mashur, diungkapkannya, bersepakat untuk membentuk paguyupan. Sejumlah nama pun diusulkan, namun Hj. Bety, Ibu kandung Nirwan Jaya, katanya, mengusulkan paguyuban mereka bernama Kembang Latar. Hj Bety melihat perkumpulan ini mirip sosok seorang pemuda Betawi yang bandel dan begajulan, namun memiliki jiwa sosial yang tinggi.
"Dulu para pemuda yang begajulan (bandel) banyak yang mereka rangkul, tujuan agar para pemuda itu jadi lebih dan berguna bagi masyarakat," ungkap Haji Black.
Baca juga : Kapolres Subang Temukan Pelajar dan Masyarakat tidak Memakai Masker
"Alhamdulillah, sejak dirangkul, udah nggak ada konflik antar pemuda, semuanya jadi guyub," tambahnya.
Lebih lanjut diungkapkannya, Kembang Latar resmi berdiri pada tanggal 9 September 1991 dengan Ketua Umum pertama, H. Sabenih Jabir. Selama kepemimpinannya, tokoh masyarakat Rempoa, Kota Tangerang itu berhasil melebarkan sayap Kembang Latar hingga wilayah Jabodetabek. Namun, tiga tahun berselang, H. Sabenih Jabir meninggal dunia. Kepemimpinannya kemudian dilanjutkan oleh Nirwan Jaya pada tahun 1994.
"Di bawah kepemimpinan Bang Nirwan Jaya yang saat itu anggota polisi aktif, Kembang Latar semakin berkembang. Tahun '97, mulai digelar Musyawarah besar di SMT Grafika, Pasar Jumat, Lebak Bulus sehingga terpilih H Matt Bendot sebagai Ketua Umum sekaligus penyusunan AD/ART organisasi," paparnya.
Lebih dari tiga dekade, anggota Kembang Latar semakin banyak dan meluas hingga Jabodetabek. Sehingga atas kesepakatan bersama para pendiri yang masih hidup, Kembang Latar yang semula merupakan paguyuban antarpemuda, berproses menjadi ormas. Jajaran pengurus di wilayah Jabodetabek, mulai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) hingga Dewan Pimpinan Cabang (DPC) pun terbentuk.
Baca juga : Polresta Malang Kota Raih 15 Top Inovasi Pelayanan Publik Kemenpan RB
"Jajaran pengurus sekarang sudah sampai tingkat Sektor dan Pos Sektor di bawah kepengurusan DPC atau setingkat kelurahan dan kecamatan yang tersebar di wilayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat," jelas Haji Black.
"Saya berharap, Kembang Latar dapat semakin besar, karena 'Seribu kawan masih kurang, satu musuh kebanyakan'," tutup Haji Black. (RBN)