Diduga Tilep Uang Kontrak Kerja Rp14,2 Miliar, Pengurus Kopaja Dipolisikan

Rabu, 24 Nopember 2021, 16:46 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Pengurus Kopaja dilaporkan oleh puluhan anggotanya ke Polda Metro Jaya, karena diduga melakukan penggelapan uang sebasar Rp14,2 miliar. Dana yang ditilep itu, disebut sebagai uang kontrak kerjasama antara Kopaja dengan Transjakarta.

"Hasil diskusi antara tim kuasa pemilik Kopaja-Trans dengan para pemilik, kami sepakat melaporkan pengurus Kopaja ke Polda Metro Jaya terkait masalah dana registrasi dengan sangkaan pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP," ujar Ketua Delegasi Anggota Kopaja, Widodo pada wartawan di Jakarta Selatan, Rabu (24/11/2021).

Dikatakan, kasus ini berawal saat pengurus tidak bisa transparan dalam mengurus persoalan dana kerja sama antara Kopaja dengan Transjakarta. Dana sebesar Rp14,2 miliar itu merupakan hasil kontrak kerja sama dengan Transjakarta di tahun 2015 silam, yang mana baru terealisasikan pembayarannya pada Juli 2020 lalu.

"Anggota Kopaja itu ada 73 orang. Nah, uang itu harusnya sampai pada pemilik yang jumlahnya 33. Pemasukan dari Transjakarta dan pengeluaran uang tidak transparan," tuturnya.

Berita Terkait : Ringankan Beban Warga, Pemprov DKI Distribusikan Beras Premium

Dia menerangkan, dari belasan miliaran uang itu, sekitar Rp3 miliar diklaim pengurus untuk biaya perawatan unit Kopaja. Namun biaya itu tidak transparan kepada anggota selaku pemilik Kopaja.

Selain itu, ada pengeluaran uang sebanyak Rp5 miliar lebih yang diklaim pengurus sebagai biaya registrasi untuk pencairan dana dari Transjakarta melalui pihak ketiga. "Namun, saat kami konfirmasi ke Transjakarta, tak ada itu yang namanya pihak ketiga, jadi, langsung ke pengurus. Faktanya, saat kami klarifikasi pun ke pengurus pada 24 September 2021 lalu soal dana registrasi itu bilangnya Rp3 miliar lebih, tapi dalam laporan malah jadi Rp5,6 miliar," bebernya.

Lebih lanjut, kata dia, sebagian uang kontrak tersebut juga diklaim pengurus digunakan untuk pembuatan pool dan segala macam. Padahal para anggota tidak pernah diberitahu soal pembuatan pool. Apalagi pengeluaran dana tersebut tanpa persetujuan dari para anggota Kopaja melalui rapat pleno.

"Pengeluaran dana itu hanya klaim-klaim pengurus. Ini sangat berdampak bagi kami (anggota Kopaja), di samping pengurangan pendapatan, mobil kondisinya hancur-hancuran juga bisa mengurangi pengoperasian unit yang ditargetkan Transjakarta," katanya.

Baca Juga : Peran Pengusaha Konstruksi dalam Roda Pemerintahan Sangat Vital

Para anggota Kopaja pun melakukan pertemuan di Wisma Tani, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (24/11/2021). Pertemuan itu dihadiri anggota Kopaja dan salah seorang perwakilan pengawas Kopaja, Yuda Simanjuntak.

Dalam pertemuan itu, anggota yang hadir sepakat mengeluarkan seruan mosi tidak percaya pada pengurus dan meminta pengurus tersebut untuk mundur dari jabatannya.

"Pengurus Kopaja mengabaikan klausul yang disepakati dalam perjanjian dengan Trans Jakarta, seperti rencana operasional kendaraan siap guna operasi, penyalahgunaan BPJS, kebijakan penggunaan dana yang tidak mengikuti prosedur. Sehingga kami putuskan pengelolaan unit Kopaja-Trans akan dilaksanakan anggota pemilik Kopaja-Trans sendiri dan mengajukan mosi tidak percaya pada pengurus," katanya.

Sementara Ketua DPD Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menerangkan, Organda sangat prihatin pada persoalan yang menjadi kompleks tersebut. Terlebih Kopaja saat ini tengah mengalami miss manajemen di dalam operasionalnya.

Baca Juga : New York Agreement 1962: Papua Adalah Indonesia

Dia berharap, persoalan itu bisa diselesaikan dengan baik sehingga Kopaja bisa tampil kembali dalam melayani masyarakat. "Harus menjadi perhatian kita semua, baik Organda maupun pemerintah, kita menata ulang kembali program-program kerjasama operator angkutan dengan Transjakarta untuk lebih baik lagi. Itu rasanya yang perlu kita tata, supaya tidak terganggu pelayanan Kopaja kepada masyarakat," katanya.

Dia juga berharap, dengan adabya pergantian pengurus Kopaja bisa bekerja lebih profesional lagi dan lebih melihat kepentingan anggotanya sendiri. Pasalnya, Kopaja sudah lebih dari 50 tahun berdiri dan melayani masyarakat Jakarta.

"Terintegrasinya dengan Transjakarta menjadi angin segar bagi Kopaja. Namun, bila urusan ini terlalu berkepanjangan, saya khawatir malah nanti ambruk dan akhirnya tidak dapat berperan melayani masyarakat. Ini yang harus dijaga dan dihindari," imbuhnya. Shafruhan mengaku sudah menyerahkan persoalan ini ditangani polisi.

"Mengingat laporannya sudah ditindaklanjuti. Sejauh informasi yang saya dapatkan, badan pengawas Kopaja juga sudah dipanggil polisi," tandasnya. (RBN)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal