LampuHijau.co.id - Pengprov IMI DKI berhasil menyumbangkan satu keping medali emas untuk kontingen DKI Jakarta. Total ada 3 medali yang disumbangkan cabang olahraga bermotor PON XX Papua, yang berlangsung di sirkuit motocross Freegeb Waninggap, distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke, Papua, Sabtu (9/10/2021).
Tiga keping medali tersebut dengan rincian 1 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Emas disumbangkan melalui crosser Muhammad Delpintor Alfarizi di nomor MX 250cc perorangan, perak melalui Muhammad Arsenio Algifari dan Racha Prabu di nomor MX 125 CC beregu, dan perunggu disumbangkan melalui nomor MX 250cc beregu melalui Muhammad Delpintor Alfarizi dan Farhan Hendro.
Baca juga : Besok Perebutkan 4 Medali, Pecatur DKI Raih Emas dan Dua Perak Serta Perunggu
Pada race yang disaksikan langsung oleh Ketua Umum KONI Provinsi DKI Jakarta Djamhuron P. Wibowo, CdM kontingen DKI wilayah Merauke Gde Sardjana, dan Ketua Posko DKI RJB Bangkit, pebalap DKI harus berjibaku menahan kerasnya persaingan yang "tak biasa".
Ketua IMI DKI Jakarta Anondo Eko Oetomo mengatakan, seluruh pebalap yang turun di PON adalah pebalap terbaik di nomor road race dan motorcross. Tidak hanya berprestasi di level nasional, bahkan mencatatkan prestasi di level Asia. Namun hasil yang didapatkan di PON jauh dari target.
Baca juga : DKI Optimis Raih Emas di Cabor Gulat
"Seluruh pebalap yang kita bawa kelasnya sudah di atas rata-rata pebalap daerah. Tapi bagaimanapun juga kita tetap bersyukur dengan hasil yang kita raih, walaupun jauh dari yang diharapkan," ujar Eko, sapaan akrab Anondo Eko Oetomo usai race.
Eko mengakui, selama race PON selain keahlian mekanik dalam meracik kendaraan, stamina dan kemampuan pebalap selama lomba, juga ada faktor nonteknis yang menguntungkan tuan rumah Papua selama jalannya lomba. Di nomor road race, dua pebalap DKI Mohammad Fadli dan Aldi Satya Mahendra harus keluar lebih cepat dari race setelah terjatuh.
Baca juga : Terus Dulang Emas, Atlet DKi Tetap di Posisi Atas dengan 43 Emas
"Banyak faktor nonteknis selama jalannya race. Saya tidak habis pikir pebalap kita yang sudah teruji keahliannya dalam setiap sirkuit dalam dan luar negeri, harus meninggalkan arena sebelum berakhirnya lomba," ungkap Eko. (ULI)