Protes PPKM Level 4, Sopir Angkot di Depok Pasang Spanduk Dekat Kediaman Wali Kota

Jumat, 30 Juli 2021, 17:31 WIB
Daerah Plus

LampuHijau.co.id - Lesunya perekonomian akibat penerapan PPKM Level 4 di Depok turut dirasakan para sopir angkot. Berkurangnya mobilitas masyarakat Depok menjadikan pemasukan di kantong para sopir jadi seret.

Sopir angkot di Depok melakukan aksi protes dengan membentangkan spanduk di Pasar Pucung tak jauh dari kediaman Wali Kota Depok.

Sekjen Organda Kota Depok M Hasyim mengatakan, latar belakang pemasangan spanduk tersebut karena pengusaha angkot dan supir angkot lapar. Sejak PPKM Darurat disusul PPKM Level 4 pendapatan angkot hanya Rp15 ribu per hari dampak penyekatan-penyekatan yang ada selama PPKM.

"Mereka tadinya mau demo ke kantor Wali Kota Depok, saya larang karena ini sedang PPKM level 4, ngga boleh membuat kerumunan. Akhirnya para supir angkot inisiatif patungan membuat spanduk untuk menyampaikan aspirasi karena pendapatan mereka ngga menentu, ngga cukup untuk biaya hidup," kata M Hasyim kepada wartawan, Jumat (30/7/2021).

Baca juga : Patroli PPKM Level 4, Polisi Bagikan 100 Paket Beras

Pengusaha angkot khususnya, kata Hasyim belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah sejak pandemi Covid-19 Maret 2020. Dari 6000 pengusaha angkot yang beroperasi di Depok 60 persennya telah berbadan hukum, dan belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah selama pandemi.

"Ini adalah salah satu bentuk aspirasi bagaimana pengusaha angkot ini ingin diperhatikan pemerintah pusat, provinsi dan daerah," katanya.

Sebelumnya, pada Juli 2020 ribuan supir angkot mendapat bantuan langsung tunai (BLT) dari Polri sebesar Rp600 per bulan selama 3 bulan berturut-turut. Tetapi setelah itu supir angkot sudah tidak pernah mendapatkan bantuan hingga saat ini.

"Benar tahun lalu supir angkot ada 12.000 an di Depok dapat BLT dari Polri Rp600 ribu per bulan selama 3 bulan. Tapi ya cuman itu aja bantuannya yang diterima supir. Kalau sekarang mungkin ada supir angkot yang dapat bansos dari Pemkot Depok tapi itu hanya sebagian kecil, tidak merata," ucap Hasyim.

Baca juga : Pesan Arifin ke Jajarannya, Hindari Kekerasan dan Dekati Warga dengan Ramah

Terpisah, salah seorang sopir angkot Wawan mengatakan sangat kecewa lantaran sampai saat ini belum dapat bantuan dari Pemkot. “Keluhan mungkin sama. Pendapatan minim, turun drastis. Kita tolong diperhatikan aja deh,” kata Wawan.

Wawan mengaku, sejak pandemi melanda, terlebih ketika ada aturan PPKM, pendapatannya merosot tajam. Hal serupa dirasakan sejumlah rekan seprofesinya.

“Turun drastis bener. Kalau biasanya bisa dapat Rp 120 ribu, sekarang paling top dapat Rp 40 ribuan. Belum bensin dan setoran. Boro-boro buat di rumah. Buat bensin aja nggak ketutup,” keluhnya.

Sejak adanya aturan PPKM, lanjut Wawan rata-rata angkot hanya membawa penumpang kurang dari tujuh orang dalam satu hari. “Nah setoran Rp 25 ribu, belum lagi bensin? Coba bayangin dah," katanya.

Baca juga : Kerja Saat PPKM Darurat di Depok, Harus Tunjukkan KIPOP

Atas dasar itulah, Wawan berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap nasib para sopir angkot. “Intinya kita minta diperhatikan aja deh. Itu intinya satu,” katanya. (HEN)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal