LampuHijau.co.id - Dinginnya malam tidak menyurutkan sebagian orang untuk mencari rezeki. Salah satunya, DW.
Wanita berusia 30 tahun ini bergegas berangkat dari tempat kosnya. Ia memilih menggunakan jasa transportasi online dari kosannya di daerah Kacamatan Weru, Kabupaten Cirebon agar cepat sampai ke lokasi yang dituju. Yakni, sebuah hotel di Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Jawa Barat.
Tak lama, DW tiba di lokasi yang dimaksud. Ia naik ke lantai 5 untuk menemui orang yang akan menerima jasanya. Jasa yang ditawarkannya adalah memijit. Memijit seluruh tubuh. Wajahnya pun ceria, karena ada secercah harapan untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah pecahan 100 ribu.
DW pun mengetuk pintu, dan calon pengguna jasanya tak lama membuka pintu kamar. DW kemudian masuk dan meminta agar tamunya membuka baju. Setelah memastikan calon pengguna jasanya akan membayar Rp250 ribu untuk dua jam, jarinya mulai bergerak memijit. Satu per satu bagian tubuh tamunya dipijit jari jemari wanita suka film action luar negeri tersebut.
Baca juga : Anggota DPR RI Katakan Abu Janda Banyak Aksi Tapi Kurang Isi
Pijitan pelan, namun bertenaga dilakukannya hingga waktu yang disepakatinya habis. Janda dua anak tersebut mengajak sang tamu untuk berbincang supaya saat dipijit merasa nyaman. Waktu berlalu begitu saja, dua jam terasa singkat, akhirnya DW mengakiri pijitannya.
Menurut DW, menjadi wanita panggilan dalam jasa memijat bukan pilihan utama hidupnya, namun karena keadaan membuatnya harus terjun ke dunia malam yang dianggap penuh hina.
"Saya terpaksa menawarkan jasa pijit panggilan, karena harus menghidupi dua anak. Mantan suami saya tidak mau menafkahi," ujar DW, saat ditemui tiga hari lalu, di Kota Cirebon, Jawa Barat.
Makanya, kata DW, ia memberanikan datang ke Cirebon untuk mencari nafkah. Ia pun harus perpisah dengan dua anaknya yang tinggal di Kota Bandung. Ia pulang tiap sebulan sekali.
Baca juga : Peracik Bumbu Makanan Anak Kost Meninggal Dunia
"Saya berusaha menutupi kalau kerja di Cirebon sebagai tukang pijit panggilan, karena khawatir anak tahu dan malu kalau mamahnya berkerja seperti ini. Malam keluyuran cari rezeki," ujarnya.
DW mengaku, di saat pandemi Covid-19, pengguna jasanya menurun drastis. Sebelum pandemi Covid-19, ia bisa melayani tiga sampai enam tamu dari pukul 18.00 WIB hingga 07.00 pagi. Namun, sejak pandemi Covid-19, ia hanya melayani satu hingga dua tamu. Parahnya, setiap menerim bayaran 250 ribu rupiah, ia hanya dapat sedikit.
"Saya dapatnya 40 ribu rupiah," ucap DW.
Sebab, sisanya dipergunakan untuk bayar admin yang kelola media sosial agar ia dapat tamu dan biaya menginap di kosan. Dalam membayar kosan, ia patungan dengan temannya seprofesi. Untuk itu, DW pun berupaya mencari tambahan dengan menawarkan jasa plus-plus. Setiap tamu yang minat merasakan pelayanan plus-plusnya diharuskan bayar satu juta rupiah.
Baca juga : Dua Pegawai Ditetapkan Menjadi Tersangka Pelanggaran Prokes
"Kenapa mahal? Karena risikonya kepada saya besar juga, sebab belum tahu kalau tamu tersebut sehat atau tidaknya. Kalau tidak sehat, saya juga yang merasakan akibatnya," ujarnya.
Sebenarnya, DW lelah menjajakan diri seperti ini, namun tidak ada pilihan demi masa depan anaknya. "Saya lelah, tapi tidak tahu sampai kapan harus bekerja seperti ini," kataanya, sambil menangis.
DW ingin dua anaknya punya masa depan yang bagus agar tidak seperti dirinya terjun ke dunia malam. "Saya rela kerja seperti ini agar anak punya masa depan, dan tak seperti saya," ujarnya.
Ke depan, DW berharap menemukan pria yang dapat membawanya ke dalam kehidupan lebih baik, seperti temannya yang dimuliakan derajatnya. "Semoga saya juga bertemu pria yang mau memuliakan saya," doanya. (MGN)