Terdakwa TPPU Rina Yuliana Divonis 12 Tahun, Vonis Fikri Salim Ditunda

Jumat, 19 Februari 2021, 21:19 WIB
Daerah Plus

LampuHijau.co.id - Terdakwa Rina Yuliana divonis 12 tahun penjara dan denda Rp5 miliar atau subsider 3 bulan dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan penggelapan oleh majelis hakim pengadilan negeri (PN) Cibinong Kelas 1A Kabupaten Bogor, pada Jumat (19/2/21) sore.

Vonis ini lebih ringan tiga tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama 15 tahun penjara dan denda Rp5 milyar atau subsider 6 bulan kurungan.

“Menimbang bahwa terdakwa Rina Yuliana terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan turut serta tindak pidana penggelapan, menyembunyikan dan merugikan hak lain. Atas dasar itu, majelis hakim PN Cibinong Kelas IA memutus terdakwa selama 12 tahun dengan denda Rp5 miliar, apabila denda tak di dibayarkan maka tambahan hukuman selama 3 bulan dijatuhkan,” kata Ketua Majelis Hakim Irfanudin, saat membacakan putusan di ruang sidang Kusuma Atmadja PN Cibinong Kelas IA Kabupaten Bogor.

Menurut majelis hakim, terdakwa Rina Yuliana terbukti menerima uang senilai Rp361 juta dari terdakwa lainnya yakni Fikri Salim, yang bersumber dari uang milik PT JMC dengan dalih mengurus perijinan berupa bangunan ruko atau hotel di kampung Sukamulya RT 01 RW 01 Desa Kopo, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, namun hingga kini tak kunjung selesai.

Berita Terkait : Tok! Fikri Salim dan Rina Yuliana Divonis 8 Tahun Penjara

“Rina terbukti secara sah menerima uang senilai Rp361 juta dari Fikri Salim yang dalihnya untuk mengurus perijinan ruko dan hotel di kawasan puncak Bogor, namun dari saksi kepala Dinas DPMPTSP, Joko Pitoyo dan saksi dari dinas PUPR Kabupaten Bogor menerangkan bahwa tidak ada pungutan biaya apapun dalam mengurus perijinan tersebut,” tegasnya.

Setelah membacakan putusan yang berlangsung selama 3 jam, majelis hakim memberi kesempatan kepada penasehat hukum dan terdakwa untuk pikir-pikir dan menerima putusan atau banding selama tujuh hari setelah putusan dibacakan.

“Jika terdakwa tidak menerima putusan ini, majelis hakim menawarkan untuk melakukan upaya hukum yang kami kasih batas waktu selama 7 hari ke depan,” jelasnya.

Dalam sidang ini, semula terdakwa utama dalam kasus TPPU dan penggelapan ini Fikri Salim yang dituntut oleh JPU selama 18 tahun penjara dan denda Rp5 miliar dan subsider 6 bulan kurungan itu, dijadwalkan diputus secara bersamaan dengan terpidana Rina Yuliana. Namun majelis hakim menunda dan dibuka kembali pada Senin, 22 Februari 2021.

Berita Terkait : Sidang Kasus TPPU, Terdakwa Fikri Salim Divonis 14 Tahun

Namun, sebelum menutup sidang Ketua Majelis Hakim Irfanudin, menanyakan terdakwa Fikri Salim apa masih ada keberatan. Tawaran itu dipakai Fikri Salim untuk melakukan upaya pembelaan tambahan yang diterima oleh majelis hakim. Padahal agenda sidang adalah pembacaan putusan.

Sebelumnya, Fikri Salim didakwa melakukan penggelapan sekaligus pidana Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Motifnya, dia melakukan klaim bon dan kwintansi palsu melalui Syamsudin yang menjadi direktur keuangan di PT Jakarta Medika.

Dana hasil kejahatan itu ditranfers ke rekening Syamsudin sebesar Rp165 juta, ke rekening Zainudin sebesar Rp50 juta, dan ke rekening Rina Yuliana Rp361 juta. Total dana yang digelapkan terdakwa Fikri Salim mencapai Rp 577 juta.

“Terjadi penggelapan uang dalam jabatan sebesar Rp 577 juta bersama sama saksi Rina, Saksi Soni Priadi dibantu oleh saksi Syamsudin bersama saksi Junaidi, itu uang PT Jakarta Medika,” ujar JPU Anita.

Berita Terkait : Terdakwa Kasus TPPU Fikri Salim Menangis, Kuasa Hukum: Media Sebagai Alat Fitnah

Kasus penggelapan ini menurut JPU Anita terjadi pada tahun 2019 saat PT Jakarta Medika merencanakan pembangunan rumah sakit di Cisarua Kabupaten Bogor. Saat itu terdakwa menaikkan harga barang keperluan untuk pembangunan gedung tersebut.

Selain itu, pengurusan izin yang sebelumnya untuk keperluan izin rumah sakit belakangan berubah menjadi izin hotel. Akibatnya rencana pembangunan rumah sakit menjadi terbengkalai. (DIR)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal