LampuHijau.co.id - Dalam rangka pemanfaatan Museum Mpu Purwa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Malang mengadakan berbagai kegiatan. Mulai dari lomba menggambar tingkat SD dengan menggunakan pensil, lomba cerdas cermat tingkat SLTP, hingga lomba vlog untuk usia 18-30 tahun terkait dengan Museum Mpu Purwa.
“Ini dalam rangka memaksimalkan (keberadaan - red) Museum Mpu Purwa. Jadi di Kota Malang ini ada dua museum dibawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu, Museum Mpu Purwa dan Museum pendidikan. Kalau kemarin kita sudah memanfaatkan dan memaksimalkan Museum Pendidikan,” kata Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Dra. Zubaidah, MM., Rabu (16/9/2020).
Ia berharap, para kepala sekolah nantinya juga bisa mengajak siswanya untuk menggunakan museum sebagai media pembelajaran.
Baca juga : KPU Kota Depok Laksanakan Pemeriksaan Kesehatan 2 Bapaslon Pilkada 2020
“Kalau situasinya sudah normal, dalam artinya tidak ada Covid lagi, bisa meng-agendakan untuk mengajak putra-putrinya belajar ke Museum. Biar anak-anak ini betul-betul tahu sejarah,” harapnya.
Ia pun mencontohkan, bahwa seorang anak lahir karena orang tua. Untuk itu, didalam agama pun juga diharuskan berbakti kepada orang tua.
“Sejarah kita lahir dari siapa?, orang tua. Maka kita harus berbakti kepada orang tua. Kalau di sekolah, ya berbakti kepada guru,” imbuhnya.
Baca juga : Doa Bersama Iringi Davnie-Pilar Saga Ichsan Mendaftar ke KPU
Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Dra. Rr. Andayoen Sri Afriana, MAP menambahkan, berbagai kegiatan yang berlangsung mulai 16-21 September 2020 ini tetap menerapkan protokol kesehatan.
“Kami kemarin sudah mensimulasikan, tetap pada konteks protokol kesehatan dengan physical distancing,” terangnya.
Selain kegiatan perlombaan, juga ada Sinau Sejarah yang digelar di movie room Museum Mpu Purwa dan on the spot di Pasuruan terkait dengan cagar budaya kolonial.
Baca juga : Duh Kasian, Tulang Luna Maya Patah, Kena Angin Sawah
“Ini bisa diikuti oleh siapa saja, termasuk teman-teman media. Untuk pemateri di Mpu Purwa dari tim ahli cagar budaya dan profesional sosial media. Sementara narasumber di Pasuruan adalah narasumber asli Pasuruan dan juga arsitek heritage,” paparnya.
Dari kegiatan pemanfaatan museum ini, pihaknya berharap bahwa museum dapat menjadi tempat belajar dan berkumpul dalam rangka untuk mempelajari sejarah atau budaya bangsa, khususnya Kota Malang.
“Jadi tidak ada lagi mindset bahwa museum itu tempat yang angker atau tempat yang untuk menyimpan benda-benda kuno,” harapnya. (YGA/Malang/ADV)