LampuHijau.co.id - Pemerintah menyadari, pandemi covid-19 telah membuat pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kesulitan untuk bisa melanjutkan usahanya. Kondisi ini pun pada akhirnya berdampak pada perekonomian mereka.
Sebelum datangnya pandemi Covid-19 para pelaku UMKM di Kecamatan Wirobradjan Yogyakarta terbilang produktif. Ada sekitar 100 lebih para pelaku usaha ultra mikro di Kecamatan Wirobradjan yang aktif. Seperti perajin batik, tas rajut, perajin blangkon, sampai perajin batok kelapa mereka kerap mendapat order dari dalam maupun luar kota.
Namun memasuki bulan Maret, ketika pemerintah pusat menetapkan Indonesia dilanda Covid-19, situasi menjadi berubah. Kebijakan pemerintah daerah membuat berbagai macam kegiatan terbatas, termasuk aktifitas jual beli. Kondisi tersebut membawa dampak ekonomi bagi para pelaku UMKM.
Bowo Prasetya, selaku ketua Forum Komunikasi UMKM Kecamatan Wirobradjan mengakui bahwa sejak pandemi melanda, kegiatan UKM di wilayahnya banyak yang terhenti. Permintaan untuk produk UKM, khususnya kerajinan tangan, hampir tidak ada. Akibatnya, untuk bertahan hidup, sebagian pelaku UKM akhirnya mengurangi tenaga kerja dan bahkan banyak juga yang berganti usaha.
Baca juga : Satgas Padat Karya Sosialisasikan 3M Cegah Penyebaran Covid-19
“Sekarang dengan adanya pandemi itu zero order. Tidak ada sama sekali pesanan. Akhirnya kita mutasi untuk menyambung hidup, beralih ke mana yang lebih ramai (produk selain kerajinan tangan).” kata Bowo kepada wartawan Lampu Hijau The Jak, di kantor Kecamatan Wirobradjan, Yogyakarta, Sabtu 24 Oktober 2020.
Berbulan-bulan menghadapi situasi pandemi membuat pelaku UMKM tak bisa berkutik. Walau pemerintah mengeluarkan berbagai macam bantuan, namun mereka tetap merasa resah karena tidak bisa melanjutkan usahanya. Hal itu yang membuat pelaku UMKM di Wirobradjan memutar otak bagaimana mereka bisa bertahan dalam situasi pandemi.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian ¬Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenkopUKM) meminta kepada para pelaku UMKM memanfaatkan teknologi digital untuk menjaring pasar. Sebab hanya teknologi digital yang bisa menghidupkan kembali denyut UMKM. Seperti penggunaan market place. Dengan adanya transaksi di market place, penjual maupun pembeli jauh dari paparan Virus Covid-19.
Kembali ke Bowo, pihaknya menyadari bahwa teknologi digitalisasi memang merupakan sebuah solusi. Namun Ketua Forkom UMKM Wirobradjan ini masih merasa ada kendala dalam penggunaannya. Bowo tak menampik adanya upaya Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi DIY Yogyakarta memberikan kemudahan untuk para pelaku UMKM di wilayahnya, dengan membuat program SiBakul. Namun lagi-lagi kendala. Faktor sumber daya manusia (SDM) yakni pelaku UMKM itu sendiri yang belum menguasai teknologi yang ada.
Baca juga : Mudahkan Layanan di Tengah Pandemi Covid-19, Imigrasi Jakpus Luncurkan Aplikasi Si SISCA
“Kita terbentur dengan SDM, ada yang memahami teknologi, tapi ada juga yang sama sekali tidak bisa. Rata-rata mereka yang tidak bisa menggunakan market place dari kalangan orang tua. Memang sudah ada pelatihannya dari dinas, namun mereka lebih memilih produksi ketimbang mengikuti pelatihan. Ini yang menjadi kendala kita. Setelah didiskusikan bersama dengan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi DIY Yogyakarta, ibu Srie Nurkyatsiwi, kami sudah memiliki solusi.” terang Bowo.
Dalam penggunaan market place, banyak pelaku UMKM khususnya dari kalangan orang tua yang terkendala memahami teknologi. Setelah didiskusikan dengan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Ir. Srie Nurkyatsiwi, ditemukan solusi bahwa para pelaku UMKM yang tak bisa menjamah teknologi digital diharapkan bisa menggunakan pihak ketiga sebagai operator atau admin market place.
Menurut Kadis, transformasi ke digital tidak harus selalu dilakukan pelaku UKM yang memiliki produk. Hal itu bisa dilakukan dengan berkolaborasi. Salah satu langkah yang bisa dilakukan contohnya adalah dengan memiliki admin-admin yang mendorong produk mereka untuk masuk ke dunia pasar digital.
“Ini bisa saja dilakukan oleh putranya atau putrinya, dia (pelaku UKM ultra mikro) tetap fokus saja ke produksinya. Lalu bisa juga kerja sama dengan reseller. Kita kan juga ada pendampingannya agar ikatan kerja itu tidak ada yang saling dirugikan. Hubungannya harusnya mutualisme. Jadi tercipta ekosistem.” terang Kadiskop yang akrab disapa Siwi.
Baca juga : Donor Darah, Aksi Sosial Jurnalis Cirebon Saat Pandemi Covid-19
Dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, sektor UMKM menjadi perhatian pemerintah sekarang ini. Oleh karena itu, hal yang paling penting agar transformasi digital di kalangan para pelaku UMKM dapat segera terwujud, dibutuhkan kerjasama semua pihak, baik dari kalangan pemerintah, swasta maupun pendampingan dari pakar-pakar teknologi yang ada di negeri ini. (Bit)