LampuHijau.co.id - Sedikitnya 2.000 pelanggan listrik di 11 kecamatan Kota Depok selama sepekan belakangan mendatangi dan mengajukan surat protes terkait kenaikan tagihan bulanan yang naik hingga tiga kali lipat dari tarif empat bulan lalu.
“Ada sekitar 2.000 pelanggan yang mengirimkan surat protes keberatan terkait kenaikan tagihan bulanan dan rata-rata setiap hari mencapai 300 hingga 400 surat protes warga dari 11 kecamatan,” kata Manajer PLN UP3 Kota Depok Putu Eka Astawa, kepada wartawan Jumat (12/6/2020).
Baca juga : Pengantin di KUA Pinang Akad Nikah Dengan Protokol Kesehatan
Sebagian besar surat protes diberikan langsung para calon pelanggan PLN yang ada di kantor PLN Depok II Tengah, Jalan Sentosa Raya dan melalui telepon serta WhatsApp. Protes itu terkait dengan lonjakan biaya tarif pembayaran untuk bulan Januari, Februari, Maret dan April 2020.
Menurut Putu, kenaikan tarif listrik di masyarakat sudah dijelaskan dan diinformasikan akibat petugas pencatat meteran PLN yang tidak dapat mendatangi rumah pelanggan dikarenakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) penyebaran Covid-19 di masyarakat.
Baca juga : PT Pulomas Jaya Rapid Test Gratis 100 Warga Pulo Nangka
Akibat tidak datangnya petugas pencatat meteran listrik ke rumah pelanggan, membuat lonjakan tarif cukup dirasakan masyarakat, terlebih sebagian besar masyarakat aktivitasnya rata-rata hanya di rumah. Sehingga tagihan selama tiga bulan tersebut dibebankan untuk tagihan bulan Mei 2020 yang cukup tinggi dengan kenaikan sekitar 20 hingga 50 persen dari tarif biasanya.
Untuk mengetahui besaran kenaikan tarif listrik selama beberapa bulan tersebut, imbuh Putu, pihaknya terpaksa melakukan pengecekan satu per satu terlebih kondisi pelanggan itu berbeda-beda. Warga yang mengirimkan surat protes ke kantor PLN di Depok II Tengah langsung diterima petugas dan untuk protes melalui telepon dilayani sekitar 40 petugas secara bergantian.
Baca juga : Pulang Kerja dari Jakarta, Warga Majalengka Positif Covid-19
Walaupun ada aksi protes warga yang mencapai sekitar 2.000 pelanggan dalam sepekan namun pihaknya telah menuntaskan sekitar 80 persen keluhan warga tersebut, ujar Putu, bahkan setelah diinformasikan serta dijelaskan perihal tagihan yang harus dibayar sebagian besar pelanggan menerima dan siap membayar tagihan tersebut.
“Memang ada pelanggan yang meminta pembayaran tagihan dicicil, tapi setelah dijelaskan bahwa nantinya beban tunggakan akan semakin berat dan menumpuk di bulan-bulan selanjutnya, akhirnya mereka setuju membayar,” ucapnya. (HEN)