LampuHijau.co.id - Hingga pekan ini, sejumlah warga Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten masih mengungsi pascabanjir bandang yang menimpa mereka. Parahnya, sejumlah posko bantuan baik dari beberapa lembaga kemanusiaan juga Pemda setempat sudah angkat kaki.
Seperti pada Jumat (14/2/2020) kemarin, masih banyak korban terdampak banjir bandang yang menempati beberapa titik pengungsian darurat. Apalagi, pekan sebelumnya banjir masih terjadi yang membuat mereka masih khawatir dan trauma.
Kondisi ini seperti diungkapkan Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Banten Nurhijrah Muhammad. "Sudah sekitar sepekan ini warga-warga Kecamatan Lebakgedong yang terdampak banjir mengungsi. Terutama yang kita kunjungi, yakni Desa Cigobang. Di sana sampai ada empat titik pengungsian yang tersebar di beberapa wilayah. Mereka sekarang tinggal di tenda-tenda dari terpal yang dibantu didirikan oleh relawan,” tutur Nurhijrah, seperti dikutip news.act.id, Jumat (14/2) kemarin.
Baca juga : Komisioner KPK yang Baru Harus Lebih Baik dari yang Lama
Warga masih lebih memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian meski dalam kondisi seadanya. Hal ini selain lantaran masih musim penghujan, juga kondisi lokasi tempat tinggal mereka yang rawan longsor.
Lanjut Nurhijrah, ada sekitar 150 pengungsi yang masih bertahan di empat titik. Dan saat ini, mereka sangat membutuhkan pangan, terpal, air bersih, kasur, karpet, juga selimut.
Beruntung, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Banten sudah mendistribusikan bantuan baik pangan maupun logistik pada Kamis (13/2). "Kita sudah mendistribusikan bantuan logistik dan pangan berupa nasi boks. Pengungsian ternyata juga sulit untuk dijangkau karena akses yang rusak akibat banjir, sehingga bantuan mesti dibawa oleh mobil off-road,” kata Nurhijrah.
Baca juga : Hadiri Rapat Tingkat Menteri, Anies Jelaskan Pengungsi Korban Banjir Sudah ke Rumah
Ia berharap, ACT Banten juga ke depannya dapat terus membantu masyarakat Kecamatan Lebakgedong yang terdampak oleh banjir sampai mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.
Dalam menghadapi banjir, masyarakat di Lebak memang banyak yang mengungsi di tenda darurat yang terbuat dari terpal. Saat ini, mereka masih sangat bergantung pada bantuan dari luar.
Sejumlah posko lembaga kemanusiaan juga pemerintah setempat sudah banyak yang angkat kaki. Namun, posko ACT hingga kini masih berdiri guna mendampingi para korban juga mengirimkan bantuan yang dibutuhkan.
Baca juga : Sikap Anies Patut Diapresiasi, Gilbert: Tangani Banjir Belum Berpihak Kepada Warga
Dan masyarakat berharap, Dinas Kesehatan setempat dapat kembali membuka posko pelayanan pengobatan agar warga yang tinggal di tenda pengungsian dapat terlayani tenaga medis. Apalagi mereka bisa tinggal di pengungsian selama 4-6 bulan, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit. (YUD)