LampuHijau.co.id - Lebih dari seribu siswa penyandang disabilitas dari 15 sekolah berkebutuhan khusus, di Kota Tangerang, memperingati hari disabilitas internasional yang jatuh hari ini, Selasa (3/12/2019). Dalam kegiatan ini, siswa berprestasi mendapatkan apresiasi dari PLN unit Distribusi Banten.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Banten Doddy B. Pangaribuan mengaku sangat prihatin dengan kondisi penyandang disabilitas yang masih marjinal. "Ini merupakan bentuk kepedulian terhadap disabilitas. Jadi, disabilitas jangan jadi kaum termajimalkan dan tidak boleh ada yang tertinggal," kata Doddy di SKH YKDW 01 Tangerang, Selasa (3/12) siang.
Dilanjutkan Doddy, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas masih sering terjadi. Terutama dalam dunia kerja. Sehingga, banyak disabilitas yang hidup menganggur.
Baca juga : Hari Kebangkitan Nasional, Pemprov DKI Minta Warga Kedepankan Gotong Royong
"Sedihnya itu, kenapa baru kali ini PLN unit Banten berpartisipasi. Semoga ini merupakan awal dari kepedulian PLN, bukan hanya dari PLN unit distribusi Banten, tetapi dari PLN di seluruh Indonesia juga," sambung Doddy.
Tidak hanya itu, sebagai komitmen terhadap kemajuan disabilitas, PLN unit Banten juga siap men-support setiap kegiatan yang dilakukan untuk pengembangan disabilitas.
Di tempat yang sama, Yuni, guru honorer SD SKH YKDW 01 mengatakan, perhatian terhadap para penyandang disabilitas yang ada di Kota Tangerang masih sangat kurang. Banyak disabilitas yang setelah lulus sekolah tidak bisa bekerja. Tidak adanya peluang dan kesempatan, membuat mereka banyak yang akhirnya hidup menganggur. Bahkan, bekerja menjadi juru parkir yang dinilai kurang layak.
Baca juga : Jaga Pelestarian, Hashim Djojohadikusumo Resmikan Pusat Suaka Orangutan di Kalimantan
"Ya, masih terjadi diskriminasi bagi disabilitas dengan mereka yang normal. Dalam dunia kerja apalagi. Setelah lulus, para siswa tidak ada yang kuliah, mereka kerja di pabrik, jadi juru parkir, dan wiraswasta," ungkap Yuni.
Dijelaskan Yuni, para disabilitas juga memiliki kemampuan yang sama dengan mereka yang hidup normal. Sehingga, bisa melakukan pekerjaan yang layak seperti orang normal.
"Ada yang ikut orangtuanya jaga warung, ada juga yang menjahit, bahkan ada yang jadi guru. Harapan saya, mereka dapat pekerjaan yang layak, kasihan orangtuanya sudah mau menyekolahkan mahal-mahal," pungkasnya. (WAH)