LampuHijau.co.id - Hingga pekan kedua pascagempa yang terjadi di Ambon, Maluku, lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih terus membersamai para pengungsi. Selain membantu sejak gempa pertama kali terjadi, ACT juga memberi bantuan baik berupa makanan, logistik, juga bantuan medis.
Dan pada Minggu (6/10/2019), ACT menggelar pelayanan kesehatan di pengungsian Dusun Waiula, Desa liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Para pengungsi di sana pun mulai mengeluhkan berbagai macam penyakit yang diderita seperti diare, gatal-gatal, juga sesak napas. Mayoritas penderitanya adalah anak-anak, yang memang sistem kesehatannya rentan.
Baca juga : Diserang Hoaks, ACT Terus Berkarya dan Menebar Kepedulian
Selain itu, dikatakan dr. Adriana Wiwi Padundung, Relawan Medis ACT, berbagai penyakit yang timbul juga akibat kondisi tempat pengungsian yang tak layak, kotor, lembab, serta dingin. "Kalau malam dingin. Pengungsi hanya tidur di tenda terpal beralaskan tikar," ujarnya seperti dikutip news.act.id, Minggu (6/10).
Dan menurutnya, antisipasi penyakit bisa dilakukan dengan memindahkan pengungsi ke lokasi yang lebih bersih. Namun diakuinya, memang sangat sulit menjaga kebersihan di kondisi terbatas seperti pengungsian ini.
Baca juga : Bantuan Air Bersih ACT Basuh Kekeringan di Kabupaten Semarang
Sejak hari pertama gempa mengguncang, ACT telah membuka posko kemanusiaan, pendistribusian logistik, dan aktivasi lima dapur umum. Dapur umum ini terletak di Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram bagian barat.
"Dapur Umum yang kami upayakan diaktivasi di bukit-bukit. Sebab, para pengungsi di atas bukti kurang mendapat bantuan karena bantuan yang datang sudah lebih dulu habis di titik pengungsian di tepi jalan di bawah bukit," terang Komandan Disaster Emergency Response (DER)-ACT Bambang Triyono.
Baca juga : Kerahkan Timses 1.000 Orang, Melani Ingin Hindari Golput dan Amankan TPS
Berdasarkan data yang diterima ACT per Sabtu (5/10), lebih dari 50 ribu warga mengungsi di Kabupaten Maluku Tengah, 42 ribu pengungsi di Kabupaten Seram Bagian Barat, dan hampir tiga ribu pengungsi di Kota Ambon. Sejumlah pengungsi tersebut masih enggan kembali ke rumah akibat trauma.
Sementara, saat ini pengungsi masih sangat membutuhkan berbagai macam kebutuhan. Utamanya keperluan mendesak seperti air bersih, makan, tenda, dan alas tenda. (YUD)