LampuHijau.co.id - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendampingi sekaligus mengakomodir warga Wamena asal Solo Jawa Tengah, untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Sebanyak tujuh orang tersebut tiba di Lanud Abdul Rahman Saleh pada Kamis (3/10/2019) pukul 00.05 WIB. Sebelumnya, mereka ikut bersama ratusan warga lainnya yang berkampung halaman di Jawa.
"Saat mereka tiba di Lanud Abdul Rahman Saleh, kami langsung mengkomodir tujuh warga asal Solo itu untuk diantarkan ke Kantor ACT Solo. Mereka istirahat sejenak, lalu setelah itu tim kami antarkan ke rumah masing-masing," terang Septi Endrasmoro selaku Kepala Cabang ACT Solo, seperti dikutip news.act.id, Kamis (3/10).
Baca juga : Ansu Fati Bakal Jadi Warga Spanyol
Sebelumnya, mereka diantar oleh ACT Cabang Malang ke kantor ACT Cabang Solo guna rehat sejenak. Selanjutnya, mereka pulang menuju kediaman masing-masing.
Diceritakan Sukiman, salah satu warga Wamena asal Desa Gempol, Kecamatanan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, tragedi kemanusiaan di Wamena sangat berbahaya bagi keluarganya. Karena alasan tersebut pula, ia dan keluarga kembali ke kampung halaman untuk menghindari pusat konflik.
Baca juga : Tokopedia dan BRP Indonesia Kembangkan Wisata Bahari Tanah Air
"Konflik itu membuat panik, apalagi saya mempunyai seorang cucu yang masih kecil. Akhirnya, saya dan keluarga ikut mendaftarkan diri di penampungan dan pendataan oleh Auri, untuk pemberangkatan kepulangan ke Jawa," tuturnya.
Kepulangan Sukiman ke Jawa tanpa membawa harta benda. Baginya, keselamatan keluarga prioritas utama. Ia juga mengucapkan terima kasih atas bantuan tim ACT Malang dan Solo, yang telah menyambut dan membantu akomodasi kepulangannya.
Baca juga : Kondisi Keamanan Kondusif, Pedagang Pasar Tanah Abang Diminta Segera Buka Toko
Ditambahkan Septi, bantuan untuk kepulangan para penyintas tragedi kemanusiaan Wamena adalah bagian ikhtiar ACT Solo dalam membantu saudara sebangsa yang terdampak konflik di Wamena. Bahkan, lanjutnya, ACT juga berencana membantu memulihkan keadaan ekonomi para penyintas konflik tersebut. (YUD)