Setahun Gempa Lombok, Harus Ada Kesadaran Mitigasi Bencana

Kondisi terkini Hunian Nyaman Terpadu yang dibangun ACT di Lombok, NTB. (Foto: ACT)
Selasa, 6 Agustus 2019, 18:13 WIB
Daerah Plus

LampuHijau.co.id - Setahun silam, tepatnya pada 29 Juli 2018, Lombok dan sekitarnya diguncang gempa dengan kekuatan M 6,4. Awalnya, para peneliti mengira gempa itu sebagai mainshock atau gempa utama. Nyatanya tidak, karena pada 5 Agustus 2018, Lombok kembali diguncang dengan gempa berkekuatan M 7.0.

Tak sampai di situ, gempa besar berikutnya terjadi pada 19 Agustus 2018, dengan kekuatan M 6,9. Lalu di hari yang sama, terjadi gempa berkekuatan M 5,4 dan M 6,4 yang berpusat di 30 km arah timur laut Lombok Timur. Hingga 27 September 2018, tercatat 564 korban meninggal dunia, 445.343 orang mengungsi, 149.715 rumah rusak, dan kerugian mencapai Rp12,15 triliun (berdasar data DMII).

Dan pada Senin (5/8/2019) kemarin, beberapa pihak dan ahli kebencanaan yang terlibat langsung dan ikut dalam penanggulangan bencana alam, melakukan mini workshop yang diadakan oleh Genpi (Generasi Pesona Indonesia). Para pengisi acara antara lain H. Ahsanul Khalik, Kepala BPBD Provinsi NTB; Agus Purbathin Hadi, Kaprodi Ilmu Komunikasi Unram; Kusnadi, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB; Yusran Saudi, Ketua KPID NTB; Lalu Muhammad Alfian, ACT NTB.

Baca juga : Sektor Padat Karya Kunci Atasi Pengangguran

Dalam diskusi ini menjelaskan, bagaimana kesiapan dan peran bebagai pihak dalam mengatasi bencana alam.

H. Ashanul Khalik menjelaskan, pentingnya semua pihak bekerja sama dalam mengatasi bencana. Bagaimana cara memberikan informasi yang benar agar masyarakat tidak panik dan tersampaikan dengan jelas, sehingga masyarakat telah bersiap-siap bila suatu waktu terjadi bencana alam.

"Kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan di sini (Lombok), tinggal di daerah yang masuk dalam zona cincin api. Tapi, bagaimana cara kita siap dan sigap bila terjadi musibah bencana meminimalisir jatuhnya korban jiwa," tambah Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) L. Muhammad Alfian, seperti dalam rilis ACT kepada awak media.

Baca juga : Sidang Lapangan, Kasus Apartemen Centro City Digelar di PN Jakbar

Sementara, ACT sendiri merupakan lembaga kemanusiaan yang sejak tragedi gempa menimpa Lombok terjadi, masih terus membersamai para korban terdampak hingga kini. Sejak bulan pertama pascagempa, ACT mulai membangun hunian nyaman terpadu (ICS) di Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Tempat tinggal yang dibentuk kompleks itu dilengkapi berbagai fasilitas seperti kesehatan, dapur umum, kebersihan hingga taman bermain anak.

Di sisi lain, pendistribusian bantuan pangan juga dilakukan melalui posko-posko bencana ACT yang tersebar hampir di semua kecamatan di Lombok.

Hingga kini, terhitung 1.700 unit hunian nyaman yang sudah dibangun. Ribuan hunian tersebut hadir dalam berbagai rupa sesuai kebutuhan warga, mulai dari Integrated Community Shelter (ICS), Family Shelter, dan Knockdown Shelter. Selain itu, sejumlah fasilitas umum juga dibangun, di antaranya 25 masjid, 24 sekolah, 16 MCK, dan 5 sumur pipanisasi. (Yud)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal