LampuHijau.co.id - Dinas Kesehatan Kabupaten Subang mencatat penurunan kasus baru kusta sekitar 40 persen. Penurunan ini tak lepas peran serta tokoh potensial di desa yang turut sebar informasi tentang kusta kepada masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Subang dr Maxi mengatakan, Post Exposure Prophylaxis Behavioral Change Communication (PEP BCC) efektif menurunkan kasus baru kusta.
Baca juga : Resahkan Warga, Kelompok Bermotor di Kabupaten Subang Menolak Geng Motor
Sebab, lanjut dr Maxi, pola perubahan komunikasi yang melibatkan tokoh agama, masyarakat, wanita, kader, maupun pemuda, sangat efektif, karena mereka paling dekat dengan masyarakat.
"Mereka dilibatkan untuk beri informasi kepada masyarakat kalau kusta tidak menjijikan dan berbahaya, serta cirinya," ucap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Subang, tersebut.
Baca juga : Alhamdulillah! Pelaksanaan OKL 2022 di Kabupaten Subang Aman dan Lancar
Apalagi, lanjutnya, kusta ini dapat diberantas, apa bila sumber penularannya ditemukan untuk diobati, kalau tidak memang sulit. "Karena akan menular secara diam-diam, tiba-tiba muncul penderita baru," ucap dr Maxi.
Maka dari itu, kata dr Maxi, dengan PEP BCC, sebelum sakit, diperiksa terlebih dahulu dan dikasih obat walaupun belum ada gejala, supaya tidak menular kepada anggota keluarga lain di sekitarnya.
Baca juga : 5.000 Bingkisan dari Neng Farah Sudah Masuk Dapur Warga Kabupaten Subang
"Dulu 200 orang kasus baru kusta pada tahun 2020, kita bisa menurunkan sampai ke 120 kasus baru per tahun. Yang diobati tahun ini sekitar 200 orang karena pengobatan kusta sekitar satu tahun lebih," ujarnya.
Kata dr Maxi, kusta pengobatannya dulu diasingkan supaya tidak menular kepada orang lain. "Kini tidak ada kebijakan isolasi, tapi kebijakannya rawat jalan di puskesmas dan rumah sakit," ucap dr Maxi. (MGN)