Penurunan Nilai Ekspor Sawit Belum Bisa Teratasi

Rabu, 12 Agustus 2020, 22:44 WIB
Bisnis Expo

LampuHijau.co.id - Hampir disemua negara tujuan ekspor sawit melakukan lockdown disaat pandemi Covid-19. Tentunya hal itu menyebabkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan hingga 11,68% di semester I 2020.  Berdasarkan catatan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), ekspor minyak sawit dan turunannya di semester I sebesar 15,50 juta ton lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 17,55 juta ton.

Dikatakan Joko Supriyono selaku Ketua Umum Gapki, ekspor minyak sawit Indonesia secara bulanan sepanjang Januari-Juni 2020 ini pun tidak pernah lebih tinggi dibandingkan semester I 2019. "Ini sudah bisa kita tebak jawabannya karena 70% sawit kita harus diekspor dan hampir semua negara tujuan ekspor mengalami kontraksi demand karena lockdown sejak awal tahun," ujar Joko, Rabu (12/8).

Baca juga : Demokrat Ngaku Belum Ada Pembicaraan Soal Pilgub DKI

Menurutnya, hampir seluruh negara utama tujuan ekspor minyak sawit mengalami pelemahan permintaan yang signifikan. Namun, ekspor ke India dan Amerika Serikat masih tercatat naik masing-masing 23% dan 7%. Meski ekspor ke India tumbuh 23%, tetapi Joko berpendapat hal ini disebabkan ekspor India di 2019 menurun cukup besar dibandingkan 2018. "Ini (ekspor ke India) sebenarnya bukan dibilang hebat  karena tahun lalu India juga mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan sebelumnya. Mungkin ini terkompensasi sedikit dengan penurunan yang tajam di tahun 2019," ujar Joko.

Selain kedua negara tersebut, ekspor ke negara Pakistan juga tercatat meningkat 1%. Negara lain yang mencatat penurunan ekspor seperti ke China turun 43%, ke Timur Tengah turun 18%, Uni Eropa turun 9%, Bangladesh turun 22%, Afrika turun 11%. Meski dari sisi volume, ekspor minyak sawit mengalami penurunan, Joko juga mengatakan dari sisi nilai, ekspor minyak sawit di semester I tercatat US$ 10,06 miliar atau meningkat sekitar 6,4% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga : Amanda Manopo Akui Belum Move On Dari Sang Mantan 

Ekspor oleokimia sepanjang semester I tahun ini juga meningkat signifikan, yakni sebesar  24,4%. Menurut Joko, peningkatan ini bisa jadi disebabkan kebutuhan atas bahan-bahan pembersih seperti desinfektan dan hand sanitizer. Sementara itu, Joko pun mengaku belum bisa memprediksi apakah ekspor minyak sawit di semester 2020 akan membaik atau tidak. Menurut dia, selama vaksin Covid-19 belum ditemukan maka berbagai negara tujuan ekspor masih akan tetap menerapkan lockdown atau PSBB.

Menurutnya, dengan adanya penerapan PSBB maka pola konsumsi pun akan berubah. "Negara-negara ekspor destinasi utama saya pikir recovery pasti akan terjadi, tetapi seberapa cepat dan seberapa dampaknya ke demand terus terang saya tidak bisa menyebutkan," kata Joko. (Bit)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal