LampuHijau.co.id - Program Fellowship Esri Indonesia diapresiasi para peserta yang berasal dari mahasiswa dan profesional. Program ini yang diinisiasi Esri Indonesia, penyedia teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) terkemuka di Indonesia ini memandu para pakar industri untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mengimplementasikan solusi SIG dalam pengambilan keputusan berbasis data, peramalan, pemantauan dan visualisasi.
Esri Indonesia Solution Strategist Manager, Khairul Amri mengatakan, para peserta Program Fellowship tidak hanya berbagi penemuan dan solusi dalam industri mereka, namun juga menunjukkan potensi GIS yang sesungguhnya. “Pemetaan cerdas teknologi mendukung upaya kita sebagai masyarakat untuk mencapai kemajuan dan meningkatkan akses ke layanan, dengan manajemen darurat dan keamanan finansial sebagai dua contoh nyata,” kata Amri di Jakarta Selatan, Rabu (20/12/2023).
Dalam program ini, pihaknya mengembangkan komunitas GIS yang lebih besar sebagai sarana untuk dapat terus berbagi keterampilan dan kemampuan para peserta untuk menemukan solusi baru dalam menghadapi tantangan. Sejak diluncurkan pada tahun 2021, lebih dari 500 pelamar telah mengambil bagian dalam Program Esri Indonesia Fellowship.
Baca juga : 16 Dokter Baru Ikut Program Internship Dokter Indonesia di Kabupaten Subang
Pada Rabu (20/12/2023), lima proyek teratas mempresentasikan solusi inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat dan mendukung tujuan nasional. Salah satu contoh penerapan GIS yang signifikan terjadi di sektor perbankan. Di tengah revolusi Industri 4.0, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) memanfaatkan SIG untuk memperluas jangkauan layanan keuangan dan menggali potensi pembayaran digital di seluruh Indonesia.
Melalui inisiatif ini, BRI menciptakan prototipe yang memetakan data dengan lebih cermat untuk mencapai masyarakat yang belum tersentuh oleh layanan perbankan. Prototipe yang dikembangkan oleh BRI mengandalkan analisis lokasi untuk menjangkau populasi yang masih diliputi ketidakmampuan mengakses layanan perbankan. Berdasarkan data Bank Dunia, hingga Maret 2023 sekitar 48 persen dari total populasi Indonesia belum terakses layanan keuangan (perbankan).
Widyaning Chandramitasari, Stream Leader Data Analyst BRI, yang juga merupakan peserta Program Fellowship Esri Indonesia menuturkan, teknologi GIS membuka peluang bagi sektor perbankan untuk memperluas akses keuangan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas ekonomi secara berkelanjutan. Fokusnya adalah memperluas akses bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terhadap produk keuangan modern.
Baca juga : Ikuti Top Model Indonesia, Sayana Satil Izzah Miliki Segudang Prestasi
"Inklusi keuangan memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan UKM. Akses terhadap layanan keuangan memberikan kesempatan kepada bisnis untuk mendapatkan modal dan investasi, yang pada gilirannya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal," ungkap Widyaning.
Dalam pengembangan prototipe, Widyaning menggunakan teknologi GIS untuk menciptakan pemetaan cerdas di wilayah yang dituju, seperti Kabupaten Sleman di utara Yogyakarta. Analisisnya membagi wilayah ini menjadi tiga kategori ekonomi: tinggi, sedang, dan rendah. "Informasi mengenai persebaran penduduk dan kegiatan bisnis di wilayah ini sangat vital dalam menggerakkan perekonomian. Data tersebut memberikan wawasan terkait potensi bisnis yang bisa dijadikan sasaran peningkatan kinerja bisnis di daerah tersebut," jelasnya.
Dia berharap proyek ini dapat memberikan rekomendasi yang berguna dalam meningkatkan adopsi branchless banking (Laku Pandai) demi meningkatkan inklusi keuangan. Pengembangan selanjutnya, menurut Widyaning, BRI akan meningkatkan parameter dan metode untuk mengoptimalkan hasil dan memperdalam wawasan potensi adopsi Laku Pandai.
Baca juga : Pertama di Indonesia, Pilates Re Bar Usung Kaizen Pilates dari Jepang
Sementara itu, insinyur dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), yaitu Harkat Wijaya dan Hari Andrian, yang juga mengikuti Program Esri Indonesia Fellowship berhasil mengembangkan inovasi berupa prototipe dashboard, untuk memantau keselamatan perjalanan Kereta Api dengan memanfaatkan teknologi pemetaan pintar. Solusi ini dirancang untuk menampilkan informasi terkait peralatan kereta api aktif dan infrastruktur perkeretaapian yang tersebar di Jawa dan Sumatera. Prototipe ini mencakup peta jembatan, jalur kereta api, terowongan, serta perangkat Internet of Things (IoT), sensor banjir, dan sensor tanah longsor/Early Warning System (EWS).
Harkat dan Hari merancang dasbor ini dengan beberapa tujuan utama, antara lain memetakan aset infrastruktur dan memantau pengawasan aset, sarana, dan prasarana berbasis GIS. Prototipe ini dapat mendeteksi kondisi di sekitar area yang rentan, termasuk informasi mengenai kondisi aset infrastruktur yang terdampak di daerah rawan.
"Dalam prosedur pemeliharaan aset infrastruktur, informasi survei terkait kondisi aset di wilayah yang rawan sangat penting. Ketika terjadi bencana alam, deteksi terhadap aset infrastruktur yang terdampak memungkinkan pemeliharaan atau perbaikan yang lebih efisien," ucap Harkat. (DTR)