Surplus Perdagangan Diprediksi akan Berlanjut, Sektor Swasta Punya Peran Besar

Selasa, 18 Oktober 2022, 20:48 WIB
Bisnis Expo

LampuHijau.co.id - Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, surplus perdagangan masih akan berlanjut dengan trend yang terus menyusut atau mengecil. Hal ini dikarenakan impor akan terus mengimbangi ekspor di tengah percepatan pemulihan ekonomi.

"Saat ini nilai impor diperkirakan akan terus mengimbangi ekspor di tengah percepatan pemulihan ekonomi, yang menyebabkan peningkatan permintaan domestik, terutama untuk bahan baku dan barang modal impor (dua kelompok impor menyumbang sekitar 90% dari total impor),“ kata Faisal, Selasa (18/10/2022).

Selain itu, kebijakan pemerintah untuk melonggarkan berbagai batasan juga, dikatakannya, akan meningkatkan impor. “Pelonggaran PPKM, telah meningkatkan mobilitas masyarakat yang dapat meningkatkan impor minyak. Sementara tren kenaikan sebagian besar harga komoditas terlihat tertahan di tengah peningkatan ketakutan akan resesi global yang bersumber dari lonjakan inflasi, yang dapat melemahkan permintaan global. Hal ini memberikan risiko melemahnya kinerja ekspor,“ jelas Faisal.

Namun, dari sejumlah harga komoditas yang terdampak, permintaan komoditas berbasis nikel tetap tinggi. Atas dasar itu, Faisal optimis, surplus perdagangan masih akan berlanjut dengan tren yang terus menyusut atau mengecil. Ini akan membawa kabar baik untuk neraca transaksi berjalan.

Baca juga : Kapolres Subang dan Dandim Resmikan Bedah Rutilahu Milik Warga Pamanukan

“Komponen penyumbang surplus terbesar pada neraca transaksi berjalan adalah neraca barang yang sejalan dengan neraca perdagangan. Neraca dagang diperkirakan masih surplus sampai akhir tahun, jadi ini masih memungkinkan untuk neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus,” ungkap Faisal.

Diproyeksikan, neraca transaksi berjalan 2022 berpotensi mencatat surplus sekitar 0,45% dari PDB (dibandingkan. 0,28% dari PDB pada tahun 2021). Sedangkan pertumbuhan ekonomi di kuartal 4 diperkirakan makin kuat, meski tertekan inflasi.

“Secara musiman pola konsumsi akan naik pada Q4 dan ditambah dengan pelonggaran PPKM dapat menjadi momentum. Tapi memang kenaikan bisa tertahan akibat tekanan inflasi,” tandas Faisal.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme pemulihan perekonomian nasional tetap terjaga, meski di tengah gejolak tantangan global. Hal tersebut seiring dengan perbaikan indikator pada berbagai sektor.

Baca juga : Kunker ke Sumedang, Puan: Ingin Indonesia Maju, Sektor Pertanian Harus Diperhatikan

Salah satu sektor yang menunjukkan perbaikan signifikan yakni konsumsi dan investasi yang ditandai dengan menguatnya daya beli masyarakat, terjaganya indikator Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan eceran, terjaganya PMI manufaktur pada level ekspansi, serta kredit perbankan yang tumbuh di atas 10% sejak Juni 2022.

"Kerja sama semua pihak termasuk swasta, patut kita syukuri karena Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen selama 3 kuartal terakhir, dan berharap di kuartal III dan IV mampu menargetkan pertumbuhan di atas 5 persen, sehingga secara year on year di akhir tahun kita targetkan 5,2%,” ungkap Ketum Golkar itu, beberapa waktu lalu.

Sementara pada kesempatan berbeda, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan terjaga. Hal itu didasarkan pada gambaran perkembangan ekonomi terakhir terutama di triwulan III dan tantang yang mungkin muncul di triwulan IV.

“Sepertinya mungkin sedikit di bawah target. Tapi kalau 5%, saya masih optimis itu masih bisa dicapai, tapi kalau 5,2% itu memang kita harus tumbuh cukup tinggi di triwulan tiga dan empat di tengah situasi ekspor sudah mulai kelihatan menurun, dampak dari eksternal global mulai terasa,” jelasnya, Selasa (18/10/2022).

Baca juga : Bisa Menghentikan Kericuhan, Suara Cupi Cupita Menjadi Pemersatu Bangsa

Menurut Eko, implementasi kebijakan fiskal sebagai shock absorber yang dilakukan pemerintah memang cukup membantu. Menurutnya, justru perekonomian Indonesia disokong oleh sektor swasta yang akan memainkan peran besar dalam kondisi saat ini.

“Karena sebetulnya fiskal itu hanya berperan di bawah 10% dari total perekonomian, lebih banyak didorong faktor swasta. Swasta kalau melihat profil sampai hari ini ya lajunya masih positif dan meningkat. Penjualan ritel juga masih tinggi, tren investasi juga positif,” tandasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal